Seakan hidup tak pernah temukan mati. Yang rendah kami hinakan, yang tinggi kami muliakan. Kami lupa arti persaudaraan, kami lupa arti persamaan. Kami yang lupa diri. Tumpukan material kami jadikan lambang keabadian, kami buat tangga untuk ukuran si miskin dan si kaya. Sempurnanya fisik kami jadikan kebanggaan, lengkaplah rasa sombong kami. Merasa hidup tak pernah temukan mati, ada hari esok, lusa, dan seribu tahun lagi. Kami begitu terus pada hari-hari itu. Tak menyadari penduduk langit beristighfar melihat kelakuan kami dari atas sana. Tak menyadari jiwa-jiwa terdiam di dalam kubur tak ingin mengulang lagi cara-cara yang sama seperti kami jika diberi kesempatan hidup ke-dua.
Senin, 18 Juni 2018
Waktu yang Begitu-begitu saja
Hari-hari itu, kami menunggu dengan jiwa yang payah, dalam raga yang lelah. Kami hampa dalam rajutan waktu yang hanya begitu-begitu saja. Pagi menjelang, merangkak siang, menjemput malam, adakah jua Kau temui kami di antara hamba-hamba-Mu yang bersimpuh bermunajat penuh merendah sebagai seseorang yang begitu menghamba? Adakah kami di antara mereka, wahai Tuhan?
Seakan hidup tak pernah temukan mati. Yang rendah kami hinakan, yang tinggi kami muliakan. Kami lupa arti persaudaraan, kami lupa arti persamaan. Kami yang lupa diri. Tumpukan material kami jadikan lambang keabadian, kami buat tangga untuk ukuran si miskin dan si kaya. Sempurnanya fisik kami jadikan kebanggaan, lengkaplah rasa sombong kami. Merasa hidup tak pernah temukan mati, ada hari esok, lusa, dan seribu tahun lagi. Kami begitu terus pada hari-hari itu. Tak menyadari penduduk langit beristighfar melihat kelakuan kami dari atas sana. Tak menyadari jiwa-jiwa terdiam di dalam kubur tak ingin mengulang lagi cara-cara yang sama seperti kami jika diberi kesempatan hidup ke-dua.
***
Baru kemarin, Kau beri (lagi) untuk kami satu bulan pembersih dosa, penyiram nurani di tengah kegersangannya. Kami gembira, seakan bulan suci itu hanya milik kami sendiri.
Di awal, kami beribadah antusias, memakai pakaian panjang hingga kadang kainnya menyentuh lantai-lantai, wangi bersih berkilau. Kami bagikan apa yang lebih dari kami demi hidupnya suasana bulan suci. Kami memperbaiki diri, kami memohon ampun atas kelalaian kami di hari-hari itu.
Di pertengahan, kami mulai jemu. Rasa semangat itu memudar, namun kami masih bertahan dengan menjalankan kewajiban. Kewajibannya saja.
Menuju penghabisan bulan tersuci, kami berlomba lagi berebut malam paling baik dari pada seribu bulan. Kami menikmati waktu-waktu terakhir, dan semua yang di awal kami ulangi lagi demi hidupnya suasana bulan suci. Kami memperbaiki diri, dan kami memohon untuk dipertemukan lagi di waktu selanjutnya.
Satu Syawal tiba. Ya Tuhan, begitu banyak kebaikan pada satu bulan yang telah kami lewati. Kini tiba kami bagai dilahirkan kembali, sesuci bayi yang tak berdosa. Fitrah. Kami saling memaafkan, berbagi lagi dalam keikhlasan, bersama dalam kedamaian. Memakai baju panjang hingga kadang kainnya menyentuh lantai-lantai. Sungguh indah seperti kehidupan sejahtera di langit.
***
Jangan diulang (lagi) pada hari-hari yang akan datang. Biarkan kami di waktu yang seperti ini. Jangan Kau beri dan ulangi lagi hari-hari ketika kami payah, congkak, dan tertidur ketika orang lain dalam munajatnya. Jangan Kau beri menang pada ego kami yang berani pada mau-Mu. Jika itu terjadi, maka kami akan lelah dan hampa (lagi) dalam rajutan waktu yang akan datang secara begitu-begitu saja, Tuhan.
Seakan hidup tak pernah temukan mati. Yang rendah kami hinakan, yang tinggi kami muliakan. Kami lupa arti persaudaraan, kami lupa arti persamaan. Kami yang lupa diri. Tumpukan material kami jadikan lambang keabadian, kami buat tangga untuk ukuran si miskin dan si kaya. Sempurnanya fisik kami jadikan kebanggaan, lengkaplah rasa sombong kami. Merasa hidup tak pernah temukan mati, ada hari esok, lusa, dan seribu tahun lagi. Kami begitu terus pada hari-hari itu. Tak menyadari penduduk langit beristighfar melihat kelakuan kami dari atas sana. Tak menyadari jiwa-jiwa terdiam di dalam kubur tak ingin mengulang lagi cara-cara yang sama seperti kami jika diberi kesempatan hidup ke-dua.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar