Jumat, 19 November 2021

Blurred


                Seseorang di muka bumi ini ada yang sedang sibuk dengan arti dari eksistensinya sendiri. Dia telah lelah untuk mengunci emosinya, dia telah selesai untuk sembunyi dari kepuraan. Dia ingin menjauh, ingin sendiri, dan ingin menangis. Ingin ambil waktu dan berterus terang.

            Tidak ada yang menyakiti, kecuali rasa sakit itu sendiri. Semua manusia adalah benar, yang bersalah adalah dia sendiri. Semua manusia baik padanya, yang sedang berkelahi adalah dia dan masalahnya sendiri. Kadang dia juga lupa apa yang sedang dipertengkarkan dalam dirinya, saking lamanya. Saking seringnya. Karena, selain darah, dirinya terdiri dari dua hal lain. Madu dan racun. Dalam tubuhnya seakan mengalir dua hal berbeda yang saling adu.

            Makanya, dia kacau.

            Dulu dia bilang bahwa apa-apa jangan menangis, tapi sekarang dia sadar kalau menahan tangis ternyata lebih menyesakkan. Jadi, akan lebih baik untuk menangis saja.

Andai saja, semua perjalanan di dunia ini adalah tanpa biaya dan tanpa beban, maka pergi adalah kata yang paling nyaman untuk menjauh. Membiarkan jarak untuk mengajarkan makna dari ‘rumah’ dan ‘pulang’, juga ‘kembali’.

 

           

Jumat, 27 Agustus 2021

Menang yang Mana, Infused Water atau Air Putih Biasa?

Minuman dengan campuran buah-buahan yang mampu mengubah air putih biasa menjadi terlihat begitu menarik dengan sentuhan rasa manis dan asam segar, tentunya dapat menjadi cara jitu untuk kita yang kurang doyan minum air putih. Anggap saja sebagai penyemangat untuk menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Siapa yang tidak senang melihat potongan warna-warni buah-buahan yang terendam dalam tumbler air minum? Tentu sangat mengobati dahaga, apalagi bila cuaca sedang terik dan tubuh sangat memerlukan energi.

Itulah mengapa Infused Water menjadi pilihan sebagian dari kita. Selain menarik, cara membuatnya relatif simpel dan tidak memerlukan waktu lama. Namun tidak sedikit juga dari kita yang beranggapan bahwa Infused Water adalah minuman yang lebih baik daripada air putih biasa. Infused Water dianggap lebih dapat menghidrasi tubuh, menurunkan berat badan, serta membuat fungsi organ menjadi lebih baik. Istilahnya, Infused Water lebih mujarab daripada air putih biasa.

Anggapan tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang bisa dibilang overclaimed. Padahal, Infused Water merupakan minuman yang tidak lebih baik atau lebih buruk daripada air putih. Namun infused water akan menjadi minuman yang paling tepat bila pembandingnya adalah minuman berkarbonasi dan memiliki kandungan gula tinggi.

Bila tubuh terasa lebih segar dan sehat dengan rutin mengonsumsi Infused Water, itu disebabkan karena cairan tubuh terpenuhi dengan baik. Dalam sehari minimal kita mengonsumsi dua liter air putih agar kesehatan tubuh tetap terjaga. Maka potongan buah yang terendam dalam air yang kita konsumsi bukanlah sebab spesifik mengapa tubuh terasa lebih segar, tetapi disebabkan karena kita rutin mengonsumsi air putih. Lagi pula, jika kita ingin memperoleh nutrisi sari buah, akan lebih baik bila mengonsumsi buah-buahan secara langsung. Karena, dengan cara direndam saja, tidak semua zat berkhasiat pada potongan buah dapat keluar dan bercampur dengan air.

Namun bukan berarti juga menambahkan potongan buah-buahan ke dalam air putih itu percuma, karena tidak semua dari kita menyukai rasa anyep dari air putih. Di sinilah peran buah-buahan yaitu dapat membantu menambah cita rasa dan mempercantik penampilan air putih sehingga membuat kita bersemangat untuk rutin mengonsumsi air putih agar kebutuhan cairan tubuh terpenuhi dan tubuh menjadi lebih sehat.

Jadi, Infused Water adalah minuman yang dapat menjadi pilihan kita agar semangat untuk mengonsumsi air putih demi menjaga kesehatan tubuh, tetapi akan menjadi sebuah kekeliruan bila kemudian kita memberi anggapan berlebihan mengenai khasiat dari Infused Water. 

Senin, 12 Juli 2021

Ilmu Dapur

 

                Barangkali ini adalah hal biasa bagi orang lain, tapi karena aku baru mengerti maka biarkan tulisan ini bicara semaunya. Ini tentang ilmu di dapur. Jangan diejek dulu, aku memang terbilang jarang untuk turun tangan membantu ibu di dapur, tapi aku tahu bagaimana teknik melelehkan coklat agar tidak gosong, aku juga tahu tingkat kematangan daging, aku tahu bagaimana teknik menggoreng ikan agar tidak menimbulkan ledakan minyak, aku juga tahu bahwa sendok kayu lebih baik dibanding sendok aluminium untuk digunakan mengaduk campuran air hangat dan madu. Aku suka memasak, asal jangan disuruh. Apa kalian begitu juga? Suka bersih-bersih, asal jangan disuruh. Suka mencuci, asal jangan disuruh. Bila ada yang begitu juga, berarti aku tidak sendirian.

            Mengenai ilmu di dapur, aku bukan ingin membahas masak-memasak secara teknik. Bukan bagaimana cara menanak nasi dengan benar, bukan bagaimana memegang pisau dapur dengan benar, atau bagaimana cara membuat kue agar mengembang sempurna. Bukan. Bukan itu.

            Namanya saja ilmu, dimensinya luas sekali. Ada yang bisa diterima oleh logika, ada juga yang hanya bisa diterima oleh nurani. Pasti pernah dengar kalimat, “kamu adalah apa yang kamu makan”. Adalah benar bila dibuat penjelasan panjang bahwa kondisi kesehatan seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimakannya. Hal ini tentu tidak memicu sanggahan dari orang lain karena memang masuk akal.

            Perlu diingat lagi, dimensi ilmu itu luas sekali. Seperti kalimat “bekerjalah untuk duniamu seolah kau hidup selamanya,” dari sini kita berasumsi bahwa kalimat tersebut seakan menganjurkan kita untuk terus bergerak mencari hidup yang sejahtera. Namun ternyata ada sisi lain yang sudut pandangnya justru terbalik, bahwa kita tidak mungkin selamanya hidup di dunia jadi jangan terlalu berkutat pada hal keduniawian. Kadang kita tidak sadar bila suatu kalimat dapat menimbulkan perbedaan persepsi yang memunculkan polarisasi. Sekarang, kita lihat diri kita dahulu. Selama ini mengikuti persepsi yang mana?

            Sama halnya dengan kalimat “kamu adalah apa yang kamu makan”, yang berkaitan dengan urusan kesehatan tubuh. Kalimat ini bukan melahirkan dua persepsi yang terbalik, tapi dua persepsi yang beriringan.

Dari yang pernah kudengar,

mengapa penting sekali untuk membawa bekal dari rumah? (Waktu kecil, kita selalu bawa bekal, kan?) karena itu masakan rumah. Dibuat dengan niat dari pengolahnya yang mengharapkan kesehatan, keberkahan, dan sebagainya untuk yang akan mengonsumsi makanan tersebut. Bukan hanya terjaminnya kesehatan yang dituju, tapi ada hal baik lainnya yang dilangitkan melalui perantara niat atas makanan yang diolah untuk dikonsumsi. Harapan yang lebih daripada kesehatan.

Ada juga yang bilang, yang menyebabkan seseorang sehat dan cerdas bukan karena makanan empat sehat lima sempurna, tetapi karena keridhoan Tuhan. Benar juga, terkadang ridho Tuhan itu turun melalui perantara makanan yang kita konsumsi. Yang lebih esensial lagi, ridho Tuhan turun melalui perantara niat yang mengolah makanan. Jika yang menyiapkan makanan adalah orang yang selalu mendoakan kita dengan ketulusan, maka beruntunglah kita.

Jadi, di dapur rumah itu ada banyak hal yang tidak kita sadari. Mulai dari memikirkan ingin masak apa, menciptakan rasa, melangitkan harapan, hingga menghadirkan niat tulus demi keridhoan-Nya untuk meraih keberkahan. Aku juga pernah mendengar guruku bercerita, bahwa beliau selalu membuatkan bekal untuk anaknya. Setiap hari selama anaknya sekolah. Dari beliau juga ilmu dapur ini kudapatkan.

Oh ya, ternyata ada lagi, ilmu di dapur juga memuat bagaimana cara melembutkan hati. Ini bukan teknik, tapi amalan. Mencuci beras dengan gerakan tangan yang berlawanan arah dengan jalan jarum jam serta senantiasa melafalkan shalawat. Ini satu ikhtiar untuk melembutkan hati. Amalan adalah rangkaian ibadah, maka gunakan nurani untuk percaya agar bisa menerima. Berlogika hanya akan menyulitkan kita untuk menghubungkan antara kondisi hati dengan bagaimana cara memasak makanan.

Makanan rumah bukan hanya urusan mengenyangkan dan higienis. Lebih dari itu, ini tentang keberkahan dan keridhoan. Dari hal ini, semoga kita dapat mengerti bagaimana pentingnya niat sebagai pondasi utama dalam suatu ibadah, salah satunya dalam hal menyiapkan hidangan olahan sendiri yang juga memiliki nilai ikhtiar.

 

 

           

           

           

Kamis, 03 Juni 2021

Rumah Tangga dan Karir


            Sudah lama sekali tidak kembali ke sini, tempat di mana aku biasa bercerita tentang apa  saja yang aku mau. Kemarin, dalam waktu yang lumayan lama tampaknya semua kata dalam benak terasa terdiam dan dingin sehingga sulit sekali untuk kutuangkan dalam bentuk tulisan. Padahal, aku selalu bilang pada diriku sendiri bahwa menulis itu menyembuhkan. Menyembuhkan apa saja, karena efeknya adalah memberikan perasaan lega dan bahagia. Tapi ternyata juga, healing is more depressed than the wound. Tapi tidak apa-apa. Mungkin aku hanya berlebihan saja, dunia sangat indah di luar sana.

            Oh ya, bagaimana kabar kita masing-masing dalam kurang lebih satu tahun terakhir ini? Kalau aku, begini-begini saja, belum ada hal-hal hebat yang dapat aku lakukan. Kadang aku bisa sampai berbicara sendiri di halaman belakang rumah, meminta maaf pada negaraku. Berharap tanah Indonesia dapat mendengar. Apalagi di hari yang lalu adalah hari lahirnya Pancasila `kan? Tidak tahu juga kenapa, tapi setiap ada hari yang dijadikan sebagai pengingat sejarah Indonesia, aku selalu memandang diriku dulu, yang ternyata sampai saat ini belum banyak berbuat untuk negeri ini. Kontras sekali dengan mimpi-mimpi yang dulu sempat kurancang, tapi aku juga sudah lupa apa saja hal hebat yang masuk dalam to do list-ku alias ambisiku. Kertasnya sudah lama kubuang karena aku sadar aku tidak mungkin dapat melakukannya. Jujur aku merasa malu. Aku memang payah. Akhirnya aku tidak percaya diri lagi dalam menulis atau melakukan kegiatan apapun yang sifatnya memberikan edukasi. Bukan aku senang karena seakan menggurui. Tidak.  Aku senang karena aku justru dapat belajar banyak ketika dapat membagi hal baru yang telah kuterima.

            Salut dengan kalian yang terus berupaya mewujudkan ini-itu demi sesuatu yang lebih baik. Tolong jangan berhenti berbuat hal baik agar positif vibes-nya sampai padaku.

            Oh ya, tahun ini juga usia kita semua bertambah. Hai teman-teman sebayaku, sepertinya jalan hidup kita perlahan akan menuju ke arah yang lebih dalam. Dua puluh tiga tahun ke atas mungkin sudah waktunya untuk berpikir ke arah yang lebih jelas dan konkret. Tapi aku juga belum bisa, karena aku masih terbang di negeri dongeng dengan sayap warna-warniku.

            Aku salut dengan teman-teman yang sudah berani ambil tanggung jawab. Salut sekali. Seandainya kalian bisa mendengar tepuk tangaku.

            Begini, pikiran ini muncul ketika pandemi membuatku menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah. Rasa bosan memang terkadang ada, tetapi tidak parah. Masih bisa diatasi dengan jalan-jalan sendiri melihat pemandangan hijau. Namun, di luar sana banyak yang bilang bahwa rasa bosannya telah mencapai titik jenuh. Mereka ingin kondisi segera berganti.

            Aku mengerti. Mungkin bila aku dan teman-teman melihat bahwa nyamannya rumah ternyata dapat menjadi tempat yang membosankan, maka mereka yang di luar sana mungkin melihat rumah menjadi tempat yang membosankan adalah karena alasan lain. Suasana setiap rumah tentu berbeda-beda.

            Sekali lagi kubilang, rasa bosanku masih bisa diatasi, bahkan hanya dengan jalan sebentar. Mudah sekali solusinya. Sampai-sampai aku pernah bertanya pada ibuku, kenapa aku tidak merasakan kebosanan separah orang lain? Padahal sarana dalam rumahku pun terbatas.

            Ibuku bilang bahwa beliau memang sudah berniat untuk memiliki rumah yang dapat membuat anak-anaknya merasa senang ketika tinggal di dalamnya. Niat itu sudah dipanjatkan bahkan ketika ibu belum berumah tangga.

            Bu, ibu sadar tidak, bukan rumah yang membuatku senang untuk selalu tinggal di dalamnya. Coba saja seandainya semua penerbangan dan pelayaran itu gratis, pasti aku sudah sering meninggalkan rumah kita dan pergi ke manapun aku mau. Yang membuat suasana rumah terasa menyenangkan karena duniaku adalah ibu. Kemana pun aku, ibu selalu menjadi tempatku menuju.

            Dari hal tersebut, aku benar-benar dapat mengerti bahwa menjadi seorang ibu adalah hal yang tidak mudah. Ia harus mengisi penuh ruang afeksi dalam diri anaknya. Membangun rumah secara harfiah untuk anaknya. Menjadi pencipta rasa paling pas di lidah anak-anaknya. Menjadi sentuhan ternyaman di kulit anak-anaknya. Banyak sekali.

            Maka, aku salut dengan teman-teman sebayaku yang sudah bisa menjadi seorang ibu. Seperti yang kubilang, dua puluh tiga tahun ke atas mungkin sudah waktunya untuk berpikir ke arah yang lebih jelas dan konkret. Tapi aku juga belum bisa, karena aku masih terbang di negeri dongeng dengan sayap warna-warniku. Sedangkan teman-teman justru sudah berani mengambil tanggung jawab yang pasti tidak mudah. Entah bagaimana lagi aku harus bilang bahwa teman-teman sungguh luar biasa!

            Terlebih pada teman-teman yang memilih sebagai ibu rumah tangga. Karena aku belajar untuk mencari sisi baik dari pandemi yang panjang ini, ternyata ia membawaku untuk melihat lagi bagaimana seorang ibu, rumah, dan kasih sayang adalah hal yang tidak dapat terpisahkan. Ketiganya adalah sebuah kesatuan. Ibu rumah tangga bukanlah panggilan yang pantas disematkan dengan kata `hanya` di depannya. `Hanya` ibu rumah tangga. Tidak.

            Makna ibu rumah tangga jauh lebih besar dan berarti daripada kata `hanya`. Menjadi ibu rumah tangga, berarti ia juga memiliki ilmu dan tak-tik untuk mengatur segala urusan rumah dengan kedua tangannya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia telah mengalami pengorbanan besar untuk melepas jenjang karirnya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia telah berdamai dengan rasa jenuh karena aktivitas yang seakan tiada henti di setiap harinya. Menjadi ibu rumah tangga berarti ia menjadi rumah bagi anak-anaknya untuk pulang. Bukankah `pulang` merupakan kata paling nyaman?

            Ibu rumah tangga jauh lebih besar maknanya untuk disandingkan dengan kata `hanya`.

            Untuk teman-teman yang bahkan masih sebayaku, tetapi telah berumah tangga dan memilih untuk tetap berkarir, terima kasih telah mau mengorbankan banyak waktu dalam melayani kami sebagai masyarakat.

            Menjadi wanita karir berarti harus kuat untuk menyingkirkan rasa rindu kepada anaknya untuk tak menemaninya bermain seharian. Menjadi wanita karir berarti harus mampu membagi dirinya untuk menjadi profesional ketika bertugas dan menjadi seorang ibu ketika di rumah. Menjadi wanita karir berarti mampu menjalankan dua peran dalam sehari. Terima kasih dari kami semua.

            Artinya, ibu rumah tangga dan ibu yang tetap menjalankan karirnya adalah dua hal luar biasa yang tidak bisa untuk saling dibandingkan. Masing-masing punya pengorbanan dan alasan tersendiri yang berbeda-beda dari satu ibu dengan ibu yang lain. Satu yang sama, ibu adalah rumah dan tempat paling nyaman untuk anaknya.

            Lagi-lagi pandemi yang membosankan justru membawaku untuk melihat lebih baik tentang arti seorang ibu untuk dunia anaknya.