Kamis, 06 Maret 2025

Fades Away

 

            

                           

               Aku pernah membaca sebuah kisah, bercerita tentang seorang pilot pesawat tempur. Saat di puncak karirnya, semua sangat cemerlang. Banyak orang yang ingin duduk di sebelahnya, banyak orang yang ingin berbincang dengannya, banyak kalimat pendambaan dan pujian terhadapnya. Raganya prima, jiwanya segar, kondisinya sangat stabil. Bisa terbang mengangkasa membawa burung besi paling keren sudah pastilah menjadi kebanggaan seluruh keluarganya, menjadi yang paling disayang, paling diperhitungkan, paling dihormati. Tidak pernah suatu acara dilangsungkan bila dirinya tidak hadir di sana.

            Namun, hari naas itu ada. Pesawat yang bermanuver cantik membelah langit biru itu harus menjumpai kata selesai. Hantaman keras menghunjam ke tanah dari kecepatan tinggi, menciptakan ledakan dan patahan di berbagai  bagian pesawat. Seorang pilot yang harus menghadapi keterkejutan, terjun bersama pesawat kebanggaan, yang harus menghadapi ledakan itu, kesakitan itu, dan ketidaktahuan apakah ia selamat atau mati.

            Beruntung, saat ia membuka mata ia mendapati dirinya di rumah sakit. Keluarga dan kerabatnya berdatangan. Ada yang memberi dukungan, ada yang menangis, ada yang pasang wajah turut prihatin. Syukurlah ia tidak mati. Tapi ia telah kehilangan satu kakinya. Kakinya remuk sehingga harus diamputasi. Tentulah itu kondisi yang berat untuk ia terima. Ia jalani dengan berbagai dukungan dan hiburan dari orang-orang sekitar. Ia coba untuk berbaik sangka dengan apa yang telah menimpanya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya masing-masing, ucapan-ucapan `semangat`, `kamu pasti bisa melalui ini`, dan apalah itu telah menguap pergi. Semua formalitas pengungkapan prihatin telah pergi. Semua kembali seperti biasa. Pesawat tempur itu tetap terbang, perannya telah diganti oleh yang lain.

            Tepat di bawah pohon rindang, cahaya matahari siang seakan memberikan warna kuning untuk hari ini. Di situlah ia, duduk dengan santai bersama kruk yang ia sandarkan di sebelahnya. Matanya melihat ke langit biru dengan rindu, dulu dia mengudara. Peristiwa naas itu telah menelan sidikit demi sedikit rasa bangganya, semangat hidupnya, juga harga dirinya. Dulu banyak yang ingin duduk di dekatnya, mengajak berbincang, foto bersama, dan sebagainya. Sekarang rasanya lengang sekali, duduk sendiri, menatap apa saja yang dilihat mata.

            Selesai. Semua ada masanya. Aku dan kamu juga pada akhirnya akan menjadi seseorang yang datang dan pergi bagi kita masing-masing, atau juga bagi manusia lainnya. Kadang jadi tokoh utama dalam peristiwa, kadang jadi yang paling diperlukan, kadang pula jadi yang paling diabaikan, jadi penonton di kejauhan. Aku dan kamu pun sama, bisa jadi tidak spesial lagi, tidak asyik lagi, tidak lagi menjadi tempat menuju. Sesuatu yang datang adalah sesuatu yang berhak untuk pergi pula.    

Seorang pilot tersebut, pada akhirnya dikenal karena tragedi itu. Kisah kelihaiannya mengolak-alik pesawat kalah populer dibanding kisah kakinya yang tinggal satu. Sementara itu, dunia penerbangan dan landasan pacu tak pernah benar-benar bersedih nelangsa tanpa kehadirannya sekarang. Akan selalu ada pengganti untuk itu semua.

             

           

 

 

Sabtu, 18 November 2023

Anabul

 

                Suatu hari ada seekor anjing yang terluka karena menyelamatkan tuannya, suatu hari ada seseorang berhati mulia mengangkut kucing kurapan ke sebuah klinik hewan, suatu hari seekor anjing menggigit anak kecil yang ingin mengajaknya bermain, suatu hari ada seekor kucing lupa jalan pulang dan pemiliknya bersedih, suatu hari pula ada satu karung besar berisi anjing-anjing yang baru saja tiba di tempat jagal.

            Konon demi menghindari semua penyakit dan virus berbahaya di rumahnya, orang tua dari seorang anak kecil yang dari kemarin berisik meminta seekor kucing untuk dijadikan hewan peliharaan, akhirnya membelikan seekor kucing ras dengan harga mahal. Cantik dan gemulai. Tidak pilih kucing kampung karena jelek dan kotor. Namun sayangnya, baru seminggu tinggal di rumah mereka, si kucing cantik nan gemulai itu mati karena stress dan mencret. Terlalu banyak minum obat anti virus-virus dan hanya hidup di dalam kandang.

            Di suatu taman terbuka, seseorang menggendong anjingnya yang tengah asyik bermain untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia kecewa seseorang mengusir dengan kasar dan mengatakan bahwa hewan yang ia bawa itu mengandung najis. Sedihnya, ini kali kedua ia mendapat perlakuan demikian pada tempat yang berbeda.

            Pada gerobak-gerobak pedagang keliling, ternyata ada salah satu atau dua yang di dalamnya tersimpan makanan kering yang akan dibagikannya untuk kucing atau juga anjing yang hidup di jalanan. Pakan kering murahan terbungkus kresek hitam yang selalu dibeli dengan uang-uang kusut yang dikumpulkannya dalam laci gerobak. Hingga malam, dagangannya tak laku. Namun pada malam itu ia beli lebih banyak pakan kucing dan anjing karena ia paham betul bagaimana rasanya kelaparan.

            Semua selalu punya sebab akibat, beberapa berlaku dengan sistem, lalu bermain dalam algoritma. Aku tidak mengarang semua ini, aku melihatnya setiap hari di real life dan di media sosial. Semakin hari semakin aku sadar bahwa kita manusia adalah perusak di muka bumi ini. Siapa yang membuang seekor hewan karena pesakitan, pengganggu, dan sudah ada hewan peliharaan baru? Siapa yang menyebabkan seekor anjing nan setia hingga akhirnya tak ingin pulang ke tuannya lagi akibat pernah dipukul dengan begitu keras? Siapa yang balik marah karena menerima perlawanan diri seekor hewan yang sedang merasa terancam?

            Kita, manusia.

            Semakin aku melihat, semakin aku mengerti bahwa kita belum tamat belajar tentang bersuci dan membedakan najis dan haram, padahal tai kita pun najis tapi mengapa hanya anjing dan babi yang kau suruh pergi jauh? Semakin pula aku mengerti bahwa kita belum belajar bentuk pertahanan diri hewan, bila kau bisa memukul maka anjing bisa menggigit dan kucing bisa mencakar. Lebih-lebih aku semakin mengerti bagaimana cara percaya pada manusia dengan melihat caranya memperlakukan makhluk di bawahnya.

            Namun tahukah, di dunia ini ada hal yang menurutku paling imut dan menggemaskan melebihi lesung pipimu. Seseorang yang tak menyukai hewan-hewan yang kumaksud, namun kadang terlibat interaksi dengan mereka, dengan cara yang halus. Entah hanya sekadar hush-hush untuk tak mengganggunya, sekadar memberi makan atau minum meski dengan perasaan aneh dan takut, atau menolong meski sangat merepotkan.

Seseorang yang tak melakukan kejahatan meski dengan hal yang tak disukainya.

Mereka itu adalah orang-orang yang susah untuk kutiru. Bagiku, tak ada masalah dengan melakukan semua hal baik kepada hewan semacam anabul ya karena aku suka, tetapi bagaimana dengan mereka yang tak menyukai namun tetap bisa hidup berdampingan? Di sanalah aku melihat hal menggemaskan dan kerendahan ego berbaur satu.

 

                       

 

               

Kamis, 22 Juni 2023

Kepada Semesta

 

                Terima kasih semesta, telah mengizinkan semuanya datang dan berlalu. Untuk segalanya, pada tawa yang tak selalu hangat, pada tangis yang sengaja bersembunyi, dan pada semua perasaan yang pernah dipaksakan untuk selalu menerima. Kini semua telah menjadi hal yang biasa, aku telah terbiasa. Terima kasih untuk segala hal yang dulu aku pernah belajar di dalamnya, untuk segala tempat yang dulunya tak pernah terpikir aku menjejakkan langkah di sana, dan untuk setiap manusia yang pernah kutemui di setiap bagiannya. Terima kasih untuk semua yang pernah kujadikan sebagai hal sementara, sebagai tangga langkahku, sebagai batu loncatanku, sebagai pembelajaranku.

            Mana mungkin angin tak pernah berbadai? Mana mungkin mata pisau tak pernah melukai? Mana mungkin mesin jam dinding tak pernah mati? Semua ada waktunya untuk berantakan, untuk dibiarkan mengamuk, untuk rusak. Sama sepertiku. Sama sepertimu. Namun sejauh yang aku tahu, semua akan punya waktu untuk reda. Waktu untuk kembali seperti semula, waktu untuk pulih, waktu untuk berganti.    

            Pada akhirnya, aku tak punya kalimat lain yang mudah terucap selain terima kasih pada semesta. Terima kasih, kalimat penawar dari semua hal mengecewakan yang pernah terjadi. Terima kasih, kalimat ringan yang lahir dari semua ketakutan, kecemasan, hingga kesedihan. Terima kasih, kalimat paling mendalam dari canda, tawa, dan bahagia.

            Telah kutemui banyak hal bahagia yang menyertakanku, mengisi memoriku dengan kenangan indah hingga aku bisa tertawa dan merasa bahwa semua telah sempurna. Telah kutemui hal yang membuatku semakin mengerti, bila buah telah busuk maka biarlah ia jatuh dengan sendirinya. Telah kutemui banyak hal untuk belajar, untuk tumbuh sebagai akar baru dari abu pohon yang pernah dihanguskan. Telah kukenali kepada siapa kumengaku tak ingin ditinggalkan dan kepada siapa aku harus pergi tanpa kembali. Kepada siapa kubercerita membagi emosi dan kepada siapa aku harus terlihat baik-baik saja. Kepada siapa aku bebas mengungkapkan amarah dan kepada siapa aku tak ambil peduli. Terima kasih semesta, aku kini belajar untuk bermuara.

            Terima kasih, kalimat untuk sebuah akhir yang tenteram. Kalimat yang menuntunku untuk menjadi pembelajar pada setiap perjalanan, pada setiap perasaan, pada setiap pekerjaan, pada setiap penyelesaian, pada setiap yang terjadi di semesta.

                       

           

           

Sabtu, 21 Januari 2023

Potongan Kue

 

            Semua hari-hari ingin berteman, bersama, piknik, atau menginginkan perayaan besar terasa seperti sudah terlewati. Sudah sirna. Terasa sudah cukup. Rasanya seperti makanan yang sudah kedaluwarsa. Pada arus informasi yang berjalan pada genggaman, ada yang bilang `bila tiba-tiba ingin ke pantai, berarti sedihnya tidak main-main.` Healing kita bilang. Aku pun mengalaminya, bertahun-tahun yang lalu. Tapi sekarang sudah tidak. Tidak ada keinginan ke pantai meski uneg-uneg sedang berantakan. Tidak lagi ngotot ingin ke pantai untuk minta ampun pada kesedihan.

            Sekarang rasanya berdiam diri di samping jendela saja sudah cukup. Merasakan hijau dan angin yang keibuan. Kau tahu angin yang keibuan? Hembusannya seakan punya nurani. Bila aku seorang anak, maka angin menerbangkan keluh kesah yang bahkan belum sempat didengar alam. Personifikasi memang, tapi itulah majas yang paling tepat.

            Aku tidak tahu apakah kata healing terdengar overused untuk sekarang ini? Atau kita yang terlalu melankolis? Atau aku yang kehilangan sebagian fungsi emosi? Pergi ke pantai, perayaan, atau kemeriahan dulunya adalah yang kusukai namun sekarang terasa sudah cukup dan tak perlu dipaksa lagi. Ada bagian diriku yang tak lagi marah bila sesuatu tak sesuai. Ada bagian diriku yang tak lagi sedih bila sesuatu tak dapat sampai.

            Mungkin seperti purnama yang kian memerah, yang kilau terangnya kian tenggelam hingga akhirnya jadi mati. Apakah siklus manusia serupa siklus purnama?

            Sekarang aku justru lebih suka menghabiskan waktuku pada bunyi-bunyi cangkang telur yang kupecahkan, suara air yang kutuang dalam cawan, aroma coklat yang kulelehkan, atau merasakan renyahnya keju yang dipanggang kering. Sebuah ruang bernama dapur kini kadang menjadi tempatku merasa nyaman.  Tidak lagi hal-hal ramai, banyak, atau sempurna yang kucari. Aroma dan rasa nampaknya lebih menarik dibanding apa yang dulu selalu ingin kudapatkan.

            Karena dari sana juga, ada banyak hal yang kudapat. Ada banyak filosofi, ada banyak ilmu tentang intuisi, juga cara membaca selera. Aku tak lagi mengejar tentang sempurna. Justru sekarang, di setiap kegiatan memotong, menuang, memanggang, dan menghias kue seakan mengembalikan fungsi emosi yang dulu kupercaya sudah hilang sebagian pada diriku.

            Aku tidak tahu bila ternyata sudah sejauh ini. Aku membuat sebuah wadah untuk menghimpun semua yang kubuat, yang kusukai, yang kuperbaiki berulang-ulang. Sebuah wadah yang kubuat untuk menolong diriku sendiri. Seperti sebuah perahu yang dibuat oleh seorang nelayan untuk dirinya sendiri menyusuri lautan, mencari ikan, mempelajari arah ombak dan angin. Wadah itu kuberi nama Potongan Kue.

            Potongan Kue. Sebuah wadah yang menyelamatkanku dari sempurna. Sebuah sempurna yang dulu selalu kucari-cari. Aku tak pernah dapat karena aku adalah satu di antara banyak hal yang berantakan. Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya untuk menjadi sesorang yang selalu ada untuk yang lain. Bagaimana caranya untuk menjadi seseorang yang selalu dapat diandalkan. Bagaimana caranya untuk menjadi seseorang yang begitu sempurna. Bagaimana rasanya ketika bisa menjadi semua itu?

            Tapi pada Potongan Kue, ada bagian dari diriku yang telah mampu menerima sesuatu yang tak sesuai dan tak dapat sampai. Ada bagian dari diriku yang dihidupkan kembali oleh energi positif yang sebelumnya tak pernah menguasaiku. Ada bagian dari diriku yang mulai mengerti bahwa hal yang sempurna selain Tuhan adalah semu.

            Pada Potongan Kue, aku juga pernah marah dan menangis. Seperti nelayan juga yang kesal ketika perahunya bocor terisi air, tapi ia tambal dan kembali ke laut. Ada rasa bahagia dan nyaman ketika aku masuk pada wadah yang kubuat sendiri. Contentment.

            Pada Potongan Kue, aku seakan kembali dan pulang. Aku senang membuatkan kue untuk mereka. Aku senang rumahku berbau aroma kue yang berasal dari dapur. Aku senang mereka dan aku sama-sama menikmati Potongan Kue yang kubuat.

            Seiring waktu, aku tak lagi mendamba hal-hal ramai, perayaan semarak, kesempurnaan, atau bertanya cara untuk selalu ada dan selalu dapat diandalkan. Aku sudah belajar tentang ego dan pengakuan. Mungkin bila aku tetap ke sana, langkahku tak mungkin seringan ini. Semua sudah lewat. Sudah seperti makanan kedaluwarsa. 

                Potongan Kue helped me a lot to feel content.

           

           

 

Jumat, 22 April 2022

Sejalan

 

                Bagaimana Ramadhan kita di tahun ini?

            Adalah hal mudah bila hanya menahan perut yang lapar dan dahaga, tapi esensi Bulan Suci Ramadhan tentulah tidak sesederhana itu. Banyak hal yang terjadi dari dalam tubuh kita sendiri, bahkan bisa jadi selama ini kita tidak pernah menyadarinya. Mungkin tulisan ini sangat terlambat dan tertinggal jauh, apalagi si fakir ilmu ini juga masih banyak khilaf hingga merasa takut tak bisa mengamalkan apa yang telah ditulisnya. Tetapi pada satu waktu, ia membaca sebuah kalimat yang dikutip dari Al-Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri, “Sebesar apapun dosamu kepada Allah, jangan putus asa kepada-Nya. Allah tidak akan berpaling darimu selama kau tidak berpaling dari-Nya. Teruslah kembali walaupun nafsumu berkali-kali mengalahkanmu.”

            Terima kasih kepada para penyebar ilmu. Bila tulisan tersebut tidak pernah sampai kepada si fakir ilmu ini, bagaimanalah hati dan pikiran yang sudah penuh akan dosa ini dapat berlepas dari keraguan yang sia-sia.

            Sudah tinggal menghitung hari. Menghitung hari bahwa Ramadhan akan segera berlalu. Ternyata ada banyak sekali keistimewaan Ramadhan yang terlewatkan oleh si fakir ilmu ini. Dia tidak tahu bahwa tubuh dan situasi dapat diajak bicara, bahwa memaafkan dapat mengobati, bahwa niat dapat menguatkan. Dia bahkan tidak tahu bahwa di dalam doa, koneksi dapat tercipta antara dia dengan Dzat maupun jiwa lainnya.

            Ternyata kegiatan puasa memang bukan hanya urusan menahan haus, lapar, juga nafsu. Lebih dari itu, terjadi mekanisme luar biasa dalam tubuh kita yang tidak kita sadari. Berpuasa dapat menciptakan suasana tenang dalam tubuh kita sehingga dapat menurunkan hormon adrenalin. Hormon adrenalin adalah hormon yang memicu reaksi terhadap kecepatan gerak tubuh dan efek lingkungan di sekitarnya. Ketika hormon adrenalin turun, maka tubuh lebih mudah untuk mengikat atau menekan emosi negatif. Hormon adrenalin juga mempengaruhi jumlah kolesterol, ketika adrenalin dalam tubuh meningkat maka makanan apapun yang kita konsumsi akan menjadi kolesterol. Inilah satu dari sekian banyak manfaat puasa untuk kesehatan jiwa dan raga.

            Mengapa Ramadhan menjadi waktu yang sangat tepat untuk muhasabah? Ternyata dengan keadaan tubuh kita yang telah ditenangkan dari kegiatan berpuasa, maka emosi kita juga akan lebih bersahabat dengan suasana hening. Hal tersebut sejalan dengan anjuran Rasulullah untuk melakukan i`tikaf di bulan Ramadhan. Dalam i`tikaf terjadilah muhasabah, dengan menurunnya hormon adrenalin maka kegiatan yang disebut forgiveness therapy dapat lebih mudah dilakukan.

            Pada dasarnya, muhasabah dapat membuat ketenangan jiwa dan dapat membantu ketika di akhirat kelak. Muhasabah dapat meningkatkan kemampuan untuk memaafkan orang lain dan diri sendiri, serta memperbaiki hubungan antara kita dengan Allah. Salah satu contohnya adalah ketika kita meminta dan mengadu pada Allah, maka terjadilah dialog. Saat dialog itu terjadi, maka terciptalah koneksi antara kita yang membutuhkan pertolongan dengan Allah Sang Pemberi.

Begitupun yang terjadi ketika kita mendoakan dan berusaha memaafkan orang lain, maka terjadilah koneksi. Dialog kita kepada orang yang kita maksud di dalam doa akan menciptakan gelombang yang akan diterima oleh jiwa orang tersebut, meskipun orang tersebut telah meninggal. Dengan bermuhasabah maka memori hingga luka lama akan terobati.

            Muhasabah dapat juga disebut terapi kesehatan mental dan pemberian stimulasi kerja otak kanan, mengingat dalam kehidupan kita sehari-hari penggunaan otak kiri lebih dominan.  Dengan membayangkan kehadiran Allah, kehadiran orang yang kita doakan dan kita maafkan, serta menghadirkan diri sendiri untuk diajak berdialog di hadapan kita, maka sebenarnya di saat itulah otak kanan dan otak kiri bekerja secara bersamaan. Karena otak kanan memiliki program untuk membangun imajinasi dengan cara membayangkan siapa yang kita hadirkan dalam doa kita. 

            Dengan terciptanya koneksi positif dari doa-doa yang kita panjatkan, maka tubuh kita akan memiliki energi kembali karena emosi dalam tubuh kita telah membaik. Begitupun dengan memori tidak menyenangkan atau luka yang berangsur akan terobati dari proses penerimaan dan memaafkan.

            Namun hal yang paling penting dan mendasari untuk mengawali semua rangkaian ibadah yang kita lakukan adalah niat. Niat itu memiliki kekuatan. Niat adalah kekuatan. Karena apa yang kita ucapkan akan berjalan di sistem syaraf tubuh kita. Dengan berniat maka tubuh akan mempersiapkan organ-organnya dari yang terbesar hingga sel-sel tubuh yang paling kecil. Mereka patuh pada perintah sistem syaraf yang membawa niat atau ucapan kita. Dengan berniat, maka akan naik derajat kesadaran pada apa yang dikerjakan.

            Dalam bulan Ramadhan, ada banyak sekali mekanisme yang terjadi di dalam tubuh yang dihasilkan dari berpuasa, bermuhasabah, hingga hal yang paling sering dianggap sepele yaitu berniat. Ternyata tubuh dan ibadah adalah sejalan. Maha suci Allah telah menciptakan manusia dengan fungsi tubuhnya dan menurunkan ilmu yang dapat diterima hati sehingga kita dapat berpikir.

Jumat, 19 November 2021

Blurred


                Seseorang di muka bumi ini ada yang sedang sibuk dengan arti dari eksistensinya sendiri. Dia telah lelah untuk mengunci emosinya, dia telah selesai untuk sembunyi dari kepuraan. Dia ingin menjauh, ingin sendiri, dan ingin menangis. Ingin ambil waktu dan berterus terang.

            Tidak ada yang menyakiti, kecuali rasa sakit itu sendiri. Semua manusia adalah benar, yang bersalah adalah dia sendiri. Semua manusia baik padanya, yang sedang berkelahi adalah dia dan masalahnya sendiri. Kadang dia juga lupa apa yang sedang dipertengkarkan dalam dirinya, saking lamanya. Saking seringnya. Karena, selain darah, dirinya terdiri dari dua hal lain. Madu dan racun. Dalam tubuhnya seakan mengalir dua hal berbeda yang saling adu.

            Makanya, dia kacau.

            Dulu dia bilang bahwa apa-apa jangan menangis, tapi sekarang dia sadar kalau menahan tangis ternyata lebih menyesakkan. Jadi, akan lebih baik untuk menangis saja.

Andai saja, semua perjalanan di dunia ini adalah tanpa biaya dan tanpa beban, maka pergi adalah kata yang paling nyaman untuk menjauh. Membiarkan jarak untuk mengajarkan makna dari ‘rumah’ dan ‘pulang’, juga ‘kembali’.

 

           

Jumat, 27 Agustus 2021

Menang yang Mana, Infused Water atau Air Putih Biasa?

Minuman dengan campuran buah-buahan yang mampu mengubah air putih biasa menjadi terlihat begitu menarik dengan sentuhan rasa manis dan asam segar, tentunya dapat menjadi cara jitu untuk kita yang kurang doyan minum air putih. Anggap saja sebagai penyemangat untuk menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Siapa yang tidak senang melihat potongan warna-warni buah-buahan yang terendam dalam tumbler air minum? Tentu sangat mengobati dahaga, apalagi bila cuaca sedang terik dan tubuh sangat memerlukan energi.

Itulah mengapa Infused Water menjadi pilihan sebagian dari kita. Selain menarik, cara membuatnya relatif simpel dan tidak memerlukan waktu lama. Namun tidak sedikit juga dari kita yang beranggapan bahwa Infused Water adalah minuman yang lebih baik daripada air putih biasa. Infused Water dianggap lebih dapat menghidrasi tubuh, menurunkan berat badan, serta membuat fungsi organ menjadi lebih baik. Istilahnya, Infused Water lebih mujarab daripada air putih biasa.

Anggapan tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang bisa dibilang overclaimed. Padahal, Infused Water merupakan minuman yang tidak lebih baik atau lebih buruk daripada air putih. Namun infused water akan menjadi minuman yang paling tepat bila pembandingnya adalah minuman berkarbonasi dan memiliki kandungan gula tinggi.

Bila tubuh terasa lebih segar dan sehat dengan rutin mengonsumsi Infused Water, itu disebabkan karena cairan tubuh terpenuhi dengan baik. Dalam sehari minimal kita mengonsumsi dua liter air putih agar kesehatan tubuh tetap terjaga. Maka potongan buah yang terendam dalam air yang kita konsumsi bukanlah sebab spesifik mengapa tubuh terasa lebih segar, tetapi disebabkan karena kita rutin mengonsumsi air putih. Lagi pula, jika kita ingin memperoleh nutrisi sari buah, akan lebih baik bila mengonsumsi buah-buahan secara langsung. Karena, dengan cara direndam saja, tidak semua zat berkhasiat pada potongan buah dapat keluar dan bercampur dengan air.

Namun bukan berarti juga menambahkan potongan buah-buahan ke dalam air putih itu percuma, karena tidak semua dari kita menyukai rasa anyep dari air putih. Di sinilah peran buah-buahan yaitu dapat membantu menambah cita rasa dan mempercantik penampilan air putih sehingga membuat kita bersemangat untuk rutin mengonsumsi air putih agar kebutuhan cairan tubuh terpenuhi dan tubuh menjadi lebih sehat.

Jadi, Infused Water adalah minuman yang dapat menjadi pilihan kita agar semangat untuk mengonsumsi air putih demi menjaga kesehatan tubuh, tetapi akan menjadi sebuah kekeliruan bila kemudian kita memberi anggapan berlebihan mengenai khasiat dari Infused Water.