Kamis, 23 November 2017

It's Just Because...

Dear, if someday you'll find me in a crowded place, and i don't take a glimpse when you call or when you look at me, don't worry. It's just because i didn't hear your call, or i didn't see your presence at there. Nor i forget you from long ago.

And if we meet in the other day where you and i had through out all bad and good things lonely, it doesn't mean my level increases without you and i'll be one of the lonely rangers. No. I still use my pride humbly, even though i know that im passive, my smile is rare, and im not a talkative person who can always laugh in small talk. Can you imagine how hard i live out there?

Sorry if i never gave you a hug like other people do when happiness flies  upon them. Im not a type of person who can make warm atmosphere, who can hear your loaded head from your daily story in the way you want me to look into your eyes, give you some advices, or give you feedback with any nice responds that you've always hoped.

Deep inside of my heart and my soul, i always respect to everyone around me with my big respect. But i just show you a little bit of it. So, please figure this out, i make it right to you about my attention that respectfully, i never tried to ignore because i knew how does it feel. But still, you judge me.

If you dont like who i'am, or my attitude, hate me like you want to do. And i will learn how to forgive you and forgive who i used to be.

It's okay to get far from me, i will think you just need space then. It doesn't matter how bad you've been thinking of me. Indeed, my flaws are more than yours. But it can not be okay if you talk about me behind my back. Because i was hurting when i built my personality like you want me to be.

I found one or two life lessons here: my personality is not always relatable with someone, when i tried to be what you like, you're surrounding me. And i was too hard on myself to play in this part. Now, i'm just letting go of something that i have to.

Kamis, 12 Oktober 2017

Autumn



            Saat itu gerimis kecil-kecil masih betah merintikkan butirannya di atas dedaunan pohon maple yang kuning memerah rimbun. Romantisme autumn menjadi sesuatu yang disambut dengan hangat hening oleh orang-orang yang entah dari mana saja mereka berasal. Dengan topi kupluknya, jaket dan sweater manis warna-warni, juga sepatu boot yang menambah elegan setiap langkah ketika menyusuri jalanan basah dengan suara tap-tap ketukan sepatu. Diperindah lagi dengan lampu-lampu jalanan bercahaya kuning jingga yang berpendar di bawah langit yang menampilkan gradasi khas ujung hari secara perlahan, mempersilakan sang bulan muncul dengan anggun di balik awan-awan yang redup menghilang.

            Begitulah yang kulihat saat ini, dari jendela kafe yang letaknya paling depan, namun di sudut ruang. Tempat yang sangat pas untuk banyak merenung, juga mengamati dan merasakan sekelumit suasana di ujung kota Amsterdam, jika kau ingin mencobanya.

            Aroma greentea latte di hadapanku menghangatkan pernapasan yang sedari tadi sedikit sesak karena suhu udara yang mulai mendingin di musim ini. Penghangat ruangan rupanya ikut andil mempengaruhi panca indra pejalan kaki. Mereka mampir, memesan makanan kecil, hot chocolate, atau apa saja yang penting hangat, lalu melanjutkan perjalanan pulang, atau kemana saja. Entah.

            Begitu sempurna gambaran musim gugur yang tertangkap oleh mataku, musim yang dulu pernah kucari sensasinya di tanah kelahiranku, Indonesia. Karena musim ini jua, perjalanan sejauh ini kutempuh. Hai autumn, aku menemukanmu!

            Sambil menyesap greentea latte, aku menggumamkan rasa syukur yang begitu dalam, entah bagaimanapun kurangnya setiap keadaan, inilah yang membuatku tambah mengerti arti sebuah perjalanan.

            Aku hanya sendiri di sini, bukan travelling dengan gaya mahal, atau sekadar mampir sebentar untuk numpang foto di setiap tempat penentu ke-afdhol-an jika sudah berkunjung ke negeri ini. Bukan.

            Buku catatanku masih tergeletak di atas meja, rapih tak tersentuh goresan pensil dari tadi. Seharusnya telah banyak yang tercatat di dalamnya, namun entahlah, rupanya tanganku enggan karena otak menginformasikan bahwa hatiku sedang tak di sini, ia diterbangkan oleh isi benak menuju masa lalu. Bertahun-tahun yang telah lewat, di masa aku masih diatur dengan rentetan kata: sekolah yang pintar; selesai makan harus tidur siang; mandi sore lalu kerjakan PR; tidurlah jam sembilan malam agar esok tidak terlambat ke sekolah. Oh Tuhan, aku mulai merindukan ayah ibuku. Homesick.

            Tentang jarak, aku yakin tak terkatakan lagi doa mereka pada Tuhan untuk menjaga langkahku yang berjalan ke sana ke mari di negeri ini. Aku yakin.

            Hei, dari mana sumber rasa rindu ini yang tiba-tiba muncul di kafe bersama aroma hangat? Oh ya, rupanya aku asyik memperhatikan anak kecil berambut pirang dengan mata biru serta pipi putih bersemu merah yang sedang memperlihatkan mainan pancing barunya juga ikan-ikan plastik aneka warna bersama ayahnya tepat di seberang jalan. Sungguh, hal kecil seperti itu sukses membuatku rindu rumah. Suasana ini sungguh membawaku.

            Asal kau tahu, ayahku sangat hobi memancing. Ketika hari libur. Ikan apa saja, besar atau kecil, banyak atau sedikit, bahkan tidak dapat sama sekali. Yang penting memancing. Dulu aku sering ikut, merengek jika tak diajak, atau langsung membuang uang recehan yang selalu dikumpulkannya di cangkir dalam lemari. Kubuang begitu saja di halaman, tanpa mau memungutnya kembali meskipun sudah berhenti ngambek. Uang itu kotor, terhempas langkah sandal yang kugunakan untuk mengaji setiap sore. Tapi jika esok aku keluar rumah, recehan itu sudah bersih tersimpan dalam cangkir. Ayahku yang memungutinya semalam.

            Aku belajar banyak dari ayah, `memancing ikan itu sama halnya melatih kesabaran` begitulah ia berkata. Terkadang jika terlalu lelah, aku ribut ingin pulang, bahkan pura-pura menghilang agar ayah beranjak dari tempatnya memancing. `Jangan berisik, nanti ikannya kabur,` adalah kalimat yang sudah kuhapal dari tegurannya jika aku mendatanginya dengan berlari.

            Lama-lama, ayah membeli pancing baru dengan pemberat nilon berwarna hijau muda terang untukku. Aku tak pernah memintanya, dia yang memberi entah untuk apa, pikirku. Mungkin daripada melihatku sibuk memilih tanaman eceng gondok untuk penutup gelas air mineral yang sudah kuisi anakan ikan yang berenang lincah minta dibebaskan, atau agar aku tak sibuk mengumpulkan kerang-kerang sungai yang membuat ujung celana panjangku basah hingga selutut.

            Lama kelamaan juga, aku betah memandangi ujung pancing dengan benda hijau muda terang yang mengapung itu, jika ikan memakan umpan pancingku, aku akan langsung tersenyum pada ayahku, merasa tak percaya bahwa ada hasil tangkapanku sendiri yang akan dimasak di rumah.

            Tak hanya hal-hal menyenangkan yang kualami ketika memancing bersama ayah. Salah jalan, kehujanan hingga petir yang menakutkan, juga tangan ayah yang tersangkut kail. Semua ada.

            Apalagi, landscape sepanjang perjalanan memancing tak pernah membosankan. Terkadang panas dengan angin sesekali bersemilir sejuk, menggoyangkan rerumputan juga daunan di pohon, menyeruakkan aroma bunga-bunga liar, dan dedaunan kering di tanah. Jika hujan tiba, setiap rintik derasnya yang masuk ke sungai membentuk mahkota sesaat akibat tetes hujan yang membentur permukaan sungai. Aku suka ketika dedaunan kuning berguguran karena angin bersama gerimis yang sejuk. Ah, mungkin begini suasana musim gugur itu, gumamku dulu. Mulai saat itu, aku jatuh cinta pada pesona autumn.

***
            Aku merapatkan jaket untuk bersiap pulang setelah greentea latteku ludes kuminum. Dalam perjalanan pulang, aku mulai berpikir lagi, bahwa hal kecil dari didikan ayah telah membawaku sejauh ini. Dan ya, mungkin hobi itu kumiliki juga. Bayangkan saja, mana pernah aku dulu bermimpi tentang autumn jika aku tak ikut memancing? Oh, ingatlah lagi tentang bagaimana pemandangan yang kuceritakan tadi. Lalu, filosofi memancing pun aku dapatkan. Aku sendiri yang menyadarinya, ayah tak pernah memberikan petuah tentang ini. Jadi begini, memancing tak perlu banyak tingkah, atau rebut ini-itu. Hanya perlu bersabar setelah umpan dirasa tepat sasaran. Lalu mengamati. Mungkin cara itu yang digunakan ayah untuk membentuk karakterku.

            Ketahuilah, aku lebih suka mengamati apapun tanpa harus banyak bertanya ini-itu, membiarkan apa yang akan terjadi, lalu menulisnya, entah baik atau tidak. Sebelas per dua belas dengan apa yang diajarkan ayahku dari hobinya.

            Lalu, penggambaran suasana tak pernah sulit kututurkan lewat rangkaian kata, karena sebagian besar diriku pernah ada di dalamnya. Sangat membantu untuk setiap penulisanku.

            Buku catatanku hari ini kosong. Benar-benar kosong. Tapi aku tak khawatir. Terima kasih adik kecil rambut pirang. Aku melihat dirimu menghantarku ke masa lalu yang indah, hingga aku punya cerita hebat tentang ayahku yang akan kutuliskan sebagai kisah baru, untuk semuanya. Yang menceritakan bagaimana seseorang dikirim ke negeri orang karena hobinya yang lain, menulis. Menulis dengan mengamati apapun di hadapannya yang diusahakan memberi moral positif. Kerinduannya yang berlabuh pada masa lalu yang secara tak sadar ia belajar banyak hal dari kegiatan memancing ikan, hingga pernah berharap musim gugur ada di Indonesia.

            Cerita baru kali ini tentang ayah, tentang hobi, hingga bagaimana hobi itu membentuk diriku. Aku pulang dengan langkah cepat, ingin cepat-cepat menuliskan sebuah cerita tentang musim gugur yang mengubah sebuah pancing mainan seorang anak kecil menjadi rentetan kenangan berharga bagi penulisnya. Semoga selesai, dan menyiratkan amanat pada pembacanya, hingga ia tak pernah lupa dengan cerita ini. Unforgettable story.

            Masih ada rintik gerimis, juga butiran air di atas daun-daun maple yang merunduk tidur untuk gugur di esok hari. Natural. Semua masa kecilku, hal-hal kecil itu, rupanya tetap punya sebab-akibat pada langkahku, perut kenyangku, tanah yang kupijak sekarang, juga suasana oranye di negeri ini. Yang baru kusadari, di musim gugur saat ini. Sungguh membawaku!
 
           

Rabu, 19 Juli 2017

Everyone is Alone


                      Suatu hari, ada sahabat yang membagi isi benaknya kepadaku. Ia bercerita banyak, sedang aku hanya mendengarkan tanpa memotong satu kata pun.

                      ``Kurasa ini adalah suatu kebimbangan.Aku yakin semua orang juga tahu bagaimana rasanya, namun aku belum berhasil mengetahui bagaimana cara keluar dari hal ini. Terkadang, aku berpikir bagaimana cara untuk menjadi seseorang yang benar-benar hidup, bukan hanya untuk sekadar bertahan. Hidup pada kehidupan sendiri dengan sebaik-baiknya, membangun apa yang masih dimimpikan, mengejar apa yang terlihat jauh, atau kembali untuk menjemput ketertinggalan
.
                      Terlihat mudah jika hanya rajin membaca rangkaian kalimat pembuka semangat harian, aku pun bisa berpidato jika hanya seperti itu. Tapi ketahuilah, dunia tetap menginginkan kesempurnaan yang semu, kenyamanan yang suntuk, lalu terlena dalam buaian pahit. Dunia luar tak perlu kita yang apa adanya. Semua palsu.

                      Sepanjang perjalananku yang masih selangkah dua langkah, perlahan aku mengerti bahwa kebahagiaan memang sederhana. Sesederhana kau mengatakan `bahagia itu sederhana` sambil tersenyum di atas rumputan hijau, atau dengan makan nasi tahu tempe di pinggir aliran air yang jernih. Begitulah.

                      Namun kembali aku melihat bagaimana mereka yang mencari kebahagiaan di antara lembaran-lembaran kertas berharga bertuliskan nominal dan mata uang dari macam-macam negara, atau juga bagaimana mereka berburu sebuah eksistensi yang terlanjur tak lagi menyediakan privasi bahwa mereka pun masih sebagai manusia biasa.

                      Bagaimana dengan diriku?
                    Aku hanya membayangkan bagaimana jika esok aku mati? Apa yang akan kutinggalkan di sini? Apa yang akan orang ingat tentang diriku? Lalu apa yang kubawa ke akhirat nanti?

                      Bila aku hanya mencari uang dan uang, jelas itu tak akan memberikan jaminan apapun jika aku merupakan orang tamak dan serakah. Bila aku meneruskan apa yang aku yakini untuk tujuan hidupku sendiri, aku tahu bahwa rasa simpati tetaplah pada tempatnya, ia akan mengusik dan menggoyahkan apa yang telah kulihat di kejauhan sana. Perasaan itu berkata `bahagiakan mereka yang berharga dalam hidupmu!` tak mungkin aku harus mengutamakan diriku sendiri. Artinya, suatu saat aku akan mengalah demi siapa pun mereka yang mengisi cerita hidupku. Itu susah, karena aku belum merasa `pernah mengalahkan` diriku sendiri. 

                Jika harus berdamai pada kenyataan, aku perlu waktu untuk membuat diriku menjadi lebih dewasa, karena selama ini aku terlalu asyik dengan cara pandangku sendiri. Senang bila menjadi dirimu, kau telah menemukan hal apa yang bisa membuatmu bahagia, tentang duniawi kau mungkin lebih beruntung daripada diriku, dan Tuhan tahu cita-citamu adalah surga.``
***
                      Begitulah dirinya, rupanya aku tak sendiri. Aku temukan ia tengah kesepian di sudut pikirnya, merenungi nasib yang ia harap tak akan buruk, merenungi kehidupan yang tak selalu sesuai dengan maunya, dan melihat diriku dalam arti yang lebih.

                      Padahal tidak. Ia tak pernah sendiri, ia telah punya diriku dari dulu, karena aku pun begitu. Semua orang berpikir bahwa mereka merasa sendirian, jauh dari itu aku menyadari bahwa tak ada yang `sendirian`,  karena setiap orang sama-sama merasakannya. Lalu, aku katakan bahwa aku tak selalu bahagia, aku hanya terus belajar untuk tersenyum agar tidak lupa caranya. Lagi, jika aku memang kaya, aku tetaplah orang yang pernah meminjam uangnya hanya untuk membeli air mineral kemasan sekali minum. Terakhir, Tuhan tahu siapa kita. Jangan berlebihan ketika tak banyak cerita sedih dari diriku, bukan berarti hidupku tak punya kekurangan. Semua orang masih selalu harap-harap cemas tentang hidup.
                       
                        

Selasa, 06 Juni 2017

Di Dalam Sepimu



Kadang sorot lampu keramaian membuatmu seakan-akan menjadi tokoh utama yang mengenaskan. Hingar-bingar mereka hanya menguras kepercayaan dirimu sendiri jika kau tak cepat-cepat kembali ke dalam zona nyamanmu. Jika mereka memerlukan bintang-gemintang yang semarak penuh glamour dan ribuan cahaya perdetik untuk mengisi hari mereka yang penuh senda gurau, maka kau hanya butuh secangkir teh panas dengan rintik hujan bersuasana mendung untuk menemani kesendirianmu yang temaram.
            Mereka tak tahu dirimu, jika kau tak bicara. Tapi yang kau lakukan hanya menulis dalam kebisuan. Tulisanmu penuh dengan perumpamaan, samar, dan hanya membentuk siluet. Tidak terang. Jika mereka tahu, bukumu terbuka untuk siapapun, tapi tak ada yang mengerti. Sayang, mereka tak ingin berpikir lebih daripada kau. Di balik kalimat tulisanmu, kau telah berpikir ribuan kali untuk setiap kata, ada banyak pergulatan di benakmu untuk menentukan apa yang benar-benar pantas kau goreskan di atas kertas kosong. Kau yakin kau bicara, meskipun tetap dalam hening. Rupanya kau memang lebih pantas untuk menjadi seorang pendengar.
            Kau masih saja acuh dengan lingkungan sekitarmu, kau pun sadar ada yang menilai bahwa terlalu tinggi kau bawa dirimu. Terkadang kau juga hanya menjawab obrolan mereka sekenanya. Mengapa kau tak pernah beritahu saja mereka bahwa kau memerhatikan apapun lebih dari siapapun, kau hanya tak tahu bagaimana cara memulai perkenalan, pertemanan, dan percakapan. Dan bilang pada mereka bahwa kau tak suka omong kosong atau  basa-basi yang hanya sekadar sandiwara belaka!
            Tapi bagimu hal itu sudah biasa, kau sudah kenyang dengan kesan-kesan negatif akan kurangnya dirimu. Lagi-lagi, kau tak pernah menggubrisnya. Kau hanya tak ingin salivamu terbuang sia-sia hanya untuk hal remeh temeh macam itu. Menurutmu, dunia sudah terlalu berisik karena suara mereka, biarlah kau tenggelam bersama sunyi yang diredam.
            Lalu, apa yang akan orang lain ketahui tentang dirimu?


Kau menjawab, “Tak perlu mereka tahu tentangku, haruskah aku menjelaskan diriku yang rapuh, canggung, kaku, dan lemah ini? Haruskah kuumumkan diriku yang sedang tidak baik-baik saja? Haruskah kupaksa diri ini bercerita tentang rasa, asa, juga cita? Dan haruskah kulihatkan lemahnya aku dalam kecewa, meradangnya aku dalam amarah, atau merintihnya aku dalam kepedihan? Kupikir, untuk apa kubagi hal itu dengan mereka? Agar mereka tahu semua sisi tersembunyi dalam diriku?  Terkadang aku berjuang lebih dari apa yang kuperlihatkan,’’ jawabanmu terlalu sarkastis, sayang.
            Baiklah. Tak ada yang salah dengan itu semua. Simpan saja semua itu untukmu sendiri. Tak perlu repot-repot kau lakukan hal itu, toh mereka tetap mengutamakan dirinya sendiri untuk mendominasi pembicaraan. Mereka hanya tak tahu bahwa obrolan murahan itu sudah ribuan kali masuk ke telingamu. Dan kau, tetaplah bersikap seakan-akan kau menghargainya.
            Kebahagiaan akan terlihat dari air mukamu ketika kau bersama embun yang masih menggantung pada pucuk daun di ujung pagi, bersama riak kecil air yang mengalir di sela bebatuan, atau bersama bau rerumputan segar dalam nuansa kesejukan nan menghijau. Naturalisasi dari alam yang hanya dapat memerlihatkan betapa bebasnya dirimu yang sebenarnya. Namun kau tetap lebih nyaman menikmatinya dalam kesendirian.
            Kau terbangkan anganmu bersama hawa angin yang syahdu, menyampaikan pada awan berarak lembut untuk dirasakan oleh semua manusia dalam butiran hujan yang memberi kehidupan. Kau hanya satu dari sekian debu jalanan yang tersapu pilu, berharap menemukan tempat yang seharusnya kau bahagia di sana. Kau hanya terbungkam oleh suara waktu yang bersaing, beradu, berlomba dalam dunia yang sibuk, juga hingar bingar kecerewetan yang mengganggu, hingga kau hanya termangu dalam diam yang membelenggu. Tetaplah tenang, kau berbakat untuk tetap mengalah.
            Terkadang kau dinilai aneh oleh orang disekitarmu. Kau menyadari akan hal itu, kau tahu apa yang terjadi di belakangmu, namun kau bertingkah seolah sibuk dengan urusanmu sendiri, seakan tak tahu apapun. Satu sifatmu yang selama ini mereka tak banyak tahu, rupanya kau adalah pengingat yang baik. Kau memegang kata-kata mereka saat mereka mengatakannya di masa lalu, terkadang kau putar kembali kenangan itu saat mereka mengatakannya, lalu kau buktikan secara diam-diam. Dari sana, kau banyak mendapat pelajaran bahwa tak sedikit dari mereka yang tak perlu dipercaya.


            Aku yakin kau sering menangis dalam tidurmu, karena kekalutan ataupun simalakama. Namun, ketika memulai harimu, kau sembunyikan keraguanmu dan bertingkah seperti biasanya dirimu. Terkadang juga kau harus menelan kekecewaanmu bulat-bulat. Kau terlalu tinggi memimpikan sesuatu, hingga kau membusuk di titik penantian. Apa yang kau bayangkan terkadang memang harus berbelok ke jalan yang memang terbaik untukmu.
            Banyak hal yang mungkin tak terucap dari mulutmu, bahkan mungkin tak sempat kau tulis di bukumu. Kau terlalu malang jika dilihat mereka, dan mereka merasa seakan lebih beruntung daripada kau.
Kau menjawab, “Aku tak perlu belas kasihan dari orang lain, aku punya potensi yang orang lain ingin miliki dalam dirinya, aku berpikir lebih dari apa yang kukatakan, aku juga memerhatikan lebih dari yang mereka tahu, dan caraku untuk bertahan dalam proses yang harus menyeretku dari zona nyamanku adalah bersujud. Aku tak perlu membagi segala cerita harianku pada mereka, cukup hanya berbisik pada bumi untuk didengar oleh langit.’’
            Baiklah, terlalu banyak rahasia yang masih tertahan dalam tanda tanya tentangmu. Mungkin kau akan bersinar hanya jika dalam kegelapan, sayang. Kau tak ingin bersemarak, ceria, apalagi mewah. Kau lebih senang berdiri sendiri, dengan pesonamu sendiri, dengan keanggunan yang elegan. Dengan caramu sendiri.
            Ketika senja mulai meredup, ketika surya mulai tenggelam, ketika kehidupan mulai menyepi di puncak hari, saat itu lembaran bukumu berbicara terhembus angin sore yang lembut. Membunyikan suara kering khas kertas, membuatku mengerutkan kening, apa gerangan yang kau buat.
 Tentang potret dirimu yang dulu pernah kusampaikan, tentang pertanyaan yang pernah kau jawab tuntas. Ternyata kau memang pengingat yang baik, kau menuliskan hal itu. Ditemani secangkir teh, dan awan berselimut mendung, kau biarkan bukumu terbuka di bawah tempias gerimis yang semakin menghidup.
Begitulah dirimu. Detik ini, semua telah kubaca hingga habis, sembari menunggumu bersujud pada-Nya, Sang penentu kisah terbaikmu. Tuhan selalu tahu suara hatimu.
Ada jalan yang memang hanya bisa ditempuh dan dipahami dirimu sendiri. Maaf, jika kau terusik karena menyadari bahwa ada yang menilaimu selain mereka. Teruslah berkarya, wahai pemuja keheningan.         



 


Selasa, 23 Mei 2017

Dengan Kertas Biru, Kita Bisa Terbang



            Tuhan selalu punya caranya sendiri. Kita hanya dua makhluk yang hidup tanpa saling mengenal sebelumnya. Namun siapa yang tahu, dari sini cerita kita berawal.
***
            Langit jingga berselimut awan lembut menampakkan pesona senjanya, burung-burung terbang melayang merendah, sedang matahari bersiap untuk permisi pergi, menyisakan kilauan cahaya di ujung-ujung pepohonan, sebelum kehidupan akan menyepi di puncak hari.

            Detik yang seperti ini, mungkin akan kutinggalkan semua keindahan yang kulihat dari jendela kamarku, tempat dimana aku selalu rela membiarkan waktu merambah berlalu, membiarkan semua kesedihan saling beradu dalam batin, membiarkan diam menceritakan banyak hal tentang rasa, asa, ataupun cita. Dan ketika semua itu berlalu pergi, aku merasa sepi.

            Lembaran kertas biru muda dengan setia menyaksikan aku yang asyik sendiri dengan duniaku, dia tetap diam. Tak pernah cemburu. Kertas itu setia, dia tahu perjuanganku, tangisanku, keluhku, juga harapanku. Ya, berbagai impian kutitipkan padanya. Tertulis dengan baik, meski tak semua tersusun rapi. Ada secoret tanda yang kuberikan di setiap ujung kata impianku, ketika Allah mengizinkannya untuk menjadi nyata. Ada pula secoret garis silang, yang artinya aku tak sebaiknya untuk meraih tujuan tertentu, dari sana Allah memberikanku jalan terbaik-Nya.

            Warna hari telah kelam, seiring irama abadi seruan kemenangan. Adzan. Sang malam dengan jubah hitamnya mulai menghidupkan sinar bintang-gemintang juga rembulan. Dalam shalatku, kusampaikan semua keluh kesah bersama untaian doa. Aku tak pernah tahu bagaimana tentang hari esok, bagaimana masa depanku, bagaimana kehidupanku, apalagi takdirku. Aku hanya meyakini satu hal, doa adalah cara terbaik, bagaimana pun aku ditakdirkan.

            Tidurku lebih awal malam ini, aku tak ingin esok ada kata terlambat untuk mengejar impianku. Kertas biru tentang impianku, kumasukkan ke dalam map bersama berkas-berkas yang telah kupersiapkan. Aku tak akan berpikir untuk ratusan kali dalam mewujudkan keinginanku yang satu ini, meski orang disekitarku memberikan berbagai komentar dan keraguan.
***

            Di tempat pengabdian, aku baru mengenal dirimu. Hanya karena rasa tanggung jawab sebagai guru untuk memerhatikan pendidikan kesehatan muridnya, kau dengan senang hati ketika kuminta memberikan pengetahuan tentang kesehatan. Ya, kupilih dirimu karena hanya kau seorang dokter yang rela mengabdi tanpa imbalan dengan jumlah besar. Dengan berbekal segala berkas dalam satu map yang langsung kuberikan padamu, kau mulai mengenal mereka satu persatu.

            Terlalu banyak kesulitan yang telah dilalui bersama, awalnya kukira aku akan menyerah. Namun dirimu berjiwa penantang, kau sendiri yang membuatku bertahan di desa antah berantah, hingga akhirnya aku tahu bahwa perjalananku sudah sejauh ini, dan aku tak mungkin harus kalah.

            Kau beri pengetahuan tentang obat-obatan di alam, memberikan pelajaran bagaimana keramahan yang ditawarkan oleh alam kepada manusia dimanapun ia berada, mulai dari pekarangan sekitar, lembah yang luas, juga kau ajak aku bersama murid-murid mendaki gunung karena rasa ingin tahu tentang suatu ilmu mengenai tumbuhan yang terdapat di sana, yang dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Kau bekali mereka dengan cara mengenal tumbuhan obat, karena kau punya alasan sendiri. Menurutmu, kau tak mungkin hidup selamanya, jika kau telah tiada, setidaknya penduduk desa sudah tahu bahan alami untuk suatu penyakit bila suatu saat diperlukan. Apalagi, tak banyak orang-orang dengan pendidikan tinggi yang rela tinggal di desa itu untuk sebuah pengabdian, yang mungkin bayarannya tak sebanding dengan biaya yang harus keluar ketika mengenyam pendidikannya.

            Aku bahagia, ada yang senasib dengan diriku. Kau membuatku tak merasa sendiri ketika segala keterbatasan menghambat apa yang seharusnya bisa kuberikan untuk pendidikan di desa itu. Bersama dirimu, aku merasa kelas reyot tak jadi masalah. Kita punya kelas yang disediakan oleh alam. Pohon dan hewan menjadi alat peraga, langit menjadi alat penunjuk waktu, lalu lantai yang tak punya batas antara pintu masuk maupun pintu keluar. Kelas yang luar biasa. Karena dirimu, untuk pertama kalinya aku mendaki gunung dengan pengalaman berharga, menemukan air terjun yang tempias sejuknya adalah hal pertama kali jua dapat kurasakan. Dulu, kukira diriku akan menyedihkan di tempat yang kuanggap serba kekurangan. Ternyata kekayaan dan keceriaan ada di sana. Ya, banyak hal ajaib yang kutemui di tempat yang dulunya kurasa aneh.

            Aku mungkin tak punya banyak uang untuk bisa memakmurkan mereka yang tertinggal, tak punya banyak relasi untuk dimintai bantuan dana dan sebagainya. Namun, memang Tuhan selalu punya cara untuk setiap teka-teki yang dihadapi manusia, cara yang sungguh indah. Awalnya hanya berbagi cerita denganmu, hanya berharap dapat melepaskan keresahan tentang kemiskinan di desa tak bernama itu, tapi rupanya dirimu cukup cerdas melihat peluang yang tak berharga jika hanya dilihat dengan sebelah mata.

            Aku hanya tertawa ketika kau tunjukkan seonggok singkong beracun yang tumbuh liar di lahan yang sabat oleh rerumputan. Hei, kau dokter atau apa? sungguhkah kau ingin meracuni orang-orang desa?

            Namun kau beri penjelasan panjang bahwa dengan cara diolah begini dan begitu, orang akan mencarinya lagi karena rasanya yang enak. Lalu kau mengolahnya dengan pengetahuan yang kau peroleh dari masa kecilmu. Ternyata kesulitan hidup masa kecilmu membawa dampak luar biasa, untuk singkong ini. Aku hanya memerhatikan cara kerjamu, bagaimana bisa seorang dokter yang akrab dengan berbagai jenis penyakit, justru meracik dan mengolah singkong dengan luwes dan telaten. Jadilah sereal untuk sebuah akhirnya. Sereal singkong yang dimakan dengan susu untuk sarapan. Sungguh tak lazim, tapi aku ingin tambah lagi saat mangkuk dihadapanku sudah tak ada isinya. Lezat.
***

            Kita mencoba membagikannya kepada murid, juga penduduk desa. Bahagia melihat mereka tersenyum ketika menikmati cita rasanya. Demi kemajuan desa yang pernah kukeluhkan keresahannya padamu, kau mengajakku merengkuh beberapa penduduk untuk berwirausaha, menjual sereal dari resepmu ke masyarakat kota. Lalu memanfaatkan keuntungannya untuk pembangunan desa itu.

            Apa jadinya jika tak ada dirimu saat itu? Singkong di sana tetaplah dianggap beracun, tanpa ada yang tahu bagaimana keunikannya saat telah diubah menjadi makanan yang enak dan menjadi favorit. Desa itu tetaplah desa tertinggal tanpa ada kemajuan jika dirimu tak pernah memulai tindakan yang lepas jauh dari kata kedokteran. Lalu aku, cukup bahagia ada yang memahami bagaimana keinginanku untuk desa yang kukasihani.
***

            Lihat sekarang, desa itu telah maju, bahkan banyak inovasi lain dengan bahan baku singkong yang sama. Mereka bekerja penuh semangat di bawah pengawasanku, para pelanggan pun silih berganti memesan kepadaku. Aku telah merasakan bagaimana senangnya menjadi wirausahawan yang dapat membantu orang lain. Berawal dari ide tak masuk akal. Dari dirimu.
***

            Malam ini, bintang tetap bersinar seperti kemarin, bulan masih sama benderangnya seperti kemarin, dan diriku masih juga sibuk dengan membalas surel dari ketua produksi sereal  desa yang kini sudah dibilang maju. Namun, terhenti diriku ketika kau baru pulang bekerja dan langsung berikan selembar kertas biru padaku.

`` Silakan contreng satu lagi impianmu terserah kapan kau mau, kita akan terbang ke sana.`` kau tersenyum ketika duduk di sampingku.

            Aku kehilangan kata-kataku. Ini kertasku, yang sudah beberapa tahun tak bersamaku, lalu aku melupakannya. Pikiranku kembali berputar ke masa dimana aku memulai segalanya, mengabdi, lalu mengenalmu, dan ya, kertas itu tersimpan di dalam map yang kuberikan padamu, lalu baru sekarang kau kembalikan padaku dengan empat contreng di ujung kalimat tentang impianku. Menjadi sukarelawan dalam pengabdian, mendaki gunung, menikmati air terjun, dan memberdayakan masyarakat dalam kewirausahaan. Semua terwujud sudah. 

            Begitukah caramu mencintai seseorang? Tak terkatakan, namun kau membuatku menyadari sendiri bahwa dirimu memang satu-satunya yang dapat membuka mataku tentang realita dan impian. Juga dirimulah satu-satunya yang dapat membuka hatiku, untuk belajar bahwa hal tersusah akan berakhir dengan indah hanya dengan menjadi diriku sendiri. Lalu menemukan orang yang tepat. Itu kau.

            Aku menangis, betapa indah cara Tuhan mengabulkan impian yang tercatat di kertas biru muda ini. Banyak pelajaran yang kudapat dalam prosesnya. Sekarang, aku tinggal mengatakan bersedia atau tidak untuk memberikan contreng di urutan terakhir yang tertulis di kertas ini. Aku selalu percaya bahwa seseorang yang duduk di sampingku ini akan selalu bersamaku dalam setiap langkah yang kuambil.
***

            Aku melihat awan-awan putih begitu dekat dengan diriku, hanya berbatas kaca jendela. Burung besi mengantarkanku ke tempat yang lama menjadi impianku, Arab. Kertas biruku akan siap untuk satu tanda contreng lagi. Umroh. Inilah awal-awal kebahagiaan setelah ia mengucap janji suci satu bulan lalu. Awal untuk segala impian kami yang lebih besar dan hebat lagi. Hanya bermula dari kertas biru, lalu sekarang aku terbang bersamanya.

Kamis, 20 April 2017

Harapan si Pemakan Singkong


Siang ini, matahari sedang terik-teriknya membagikan panas yang ia miliki. Lebih dari cukup untuk kulitku yang memang tak pernah lebih terang dari warna sawo matang. Debu-debu jalanan masih dengan kesibukannya, terbang ke sana ke mari, menari-nari di bawah langkah-langkah terseret sandal manusia, juga terdorong akibat asap knalpot dan mesin-mesin kendaraan lainnya.

            Baju lusuh yang sedikit kebesaran, sandal aus yang letih menyusuri jalan, dan peci hitam kusam dengan benang-benang putih yang keluar dari ikatannya. Terdiam begitu saja membungkus ragaku yang telah merenta termakan waktu. Guratan-guratan pengalaman hidup seakan tertulis dalam keriput wajah, keletihan dalam pencarian jalan keluar setiap keadaan terlihat dari mata yang pupus binarnya, lalu uban-uban menghias di bawah pinggiran peci hitam, seakan menandakan jaman memang berubah. Pohon kresen dengan daunnya yang rimbun adalah satu-satunya tempat ternyaman untuk berteduh di tengah kota yang penuh sesak dengan kepenatan orang-orangnya.

 Aku masih duduk tersandar di bawah pohon, tangan gemetarku menahan tiga bingkai bergambar kaligrafi. Terlalu takut jika ada yang merampasnya, karena seliter beras telah kutanamkan sebagai harapan jika semua laku terjual.

Setiap hari aku hanya dikenyangkan dengan singkong bersama pucuk daunnya sebagai sayur juga lauk. Rasa hambar dan membosankan dapat ditutupi dengan pedas sambal yang kupetik sendiri cabainya di pekarangan sempitku. Tak ada sesuatu apapun yang berharga di rumahku, selain rasa syukurku sendiri.

Lama aku memerhatikan pemuda di seberang jalan dengan tas segi empat hitam yang menjadi tentengannya. Berkemeja putih celana hitam, juga sepatu mengilap hendak menyeberang ke arahku. Wajahnya kusut bekas bermandi keringat dan sinar matahari.

Pohon kresen di sini selalu memberikan keteduhan sehingga menarik hati siapapun yang sudah tak betah dengan udara panas. Termasuk pemuda itu. Kini ia duduk di sampingku, di atas bangku panjang.


Hanya karena teringat pada anakku, langsung kutawarkan sebotol minuman yang sengaja kubawa dari rumah.

“Minum dulu, Nak,’’ ucapku sambil menyodorkan sebotol air minum.
“Terimakasih, Pak. Tadi saya sudah minum,’’ tolaknya secara halus.
“Kalau boleh saya tahu, Anak ini dari mana, dan hendak apa? Saya sebelumnya tak pernah melihat dirimu, Nak,’’ tanyaku.
“Panggil saja saya Hery, Pak. Saya orang jauh dari desa, kuliah di kota, dan datang ke sini melamar kerja. Tapi belum dapat panggilan sampai sekarang.’’
“Sekarang penduduk jumlahnya meningkat, Nak. Lulusan pendidikan tinggi juga susah cari kerja,’’ ucapku.
“Iya, Pak. Saya juga bingung. Mau pulang lagi ke rumah, tapi saya malu. Belum bisa menghasilkan apa-apa.’’
“Sebenarnya paradigma orang-orang yang perlu dirubah. Kerja tidak harus selalu mengikuti orang lain, kamu sendiri juga masih muda, bisa berkarya banyak.``
“Tapi kalau kerja di perusahaan lebih bagus, Pak. Dapat gaji setiap bulan. Apalagi di perusahaan milik luar negeri. Dari saya kecil, impian saya memang seperti itu, Pak,’’ ia menyanggah.

            Uang memang bisa merubah segalanya. Hanya karena uang juga, orang rela melakukan apa saja jika ia mau.

“Pulanglah, Nak. Peluang di sini sangat kecil. Seandainya kamu menghabiskan waktu di tempat kamu berasal, berbuat banyak untuk desamu sendiri, lama-lama kamulah yang dapat memajukan desa,’’ aku memberi saran.

“Ah, Bapak ini bagaimana? Saya kan juga ingin sukses, dan saya tidak ingin terjebak di desa sendiri,’’ jawabnya sambil tertawa. Mungkin jawabanku terlalu lucu untuknya.
“Iya, tapi kesuksesan yang sebenarnya untuk Indonesia, Nak. Negara di luar sana sudah kaya.’’


            Aku tahu ia sedikit jengkel dan terganggu dengan nasihat-nasihat dari orang tua seperti diriku. Aku sangat paham jiwa mudanya masih menggebu, tapi aku hanya ingin semangatnya untuk negeri ini.

“Cita-cita saya memang ingin bekerja di perusahaan asing, Pak. Lalu bagaimana dengan Bapak sendiri?  Berbuat banyakkah Bapak untuk Indonesia? Kalau iya, mengapa Bapak hanya di sini juga, sama seperti saya?’’ ia melirik ke arah bingkai yang masih kupegang erat.
“Saya ini sudah tua, Nak. Sekarang yang terpenting tidak menyusahkan orang lain, dan setidaknya masih ada harapan untuk makan hari ini.’’
“Lalu apa yang telah Bapak beri untuk Indonesia di masa muda?’’ ia bertanya.
“Masa muda saya sudah saya berikan untuk negara kita ini. Berjuang, saya korbankan dan saya relakan masa tua saya hingga seperti ini.’’
            Jujur, aku ingin menangis jika mengenang sejarahku bersama Indonesia pada waktu dulu.
“Maaf, Pak. Maksudnya bagaimana?’’
“Aku yakin kau tahu tentang Belanda dan Jepang yang kala itu datang ke Indonesia. Aku tak pernah menyesal mengorbankan apa yang kumiliki, termasuk masa depan yang kujalani sekarang ini.’’
            Pemuda itu mendekatiku, tertarik dengan apa yang belum kuceritakan sepenuhnya.
“Jadi, Bapak ini dulunya pejuang?’’
“Ya. Sedih rasanya jika harus menghadapi kemerdekaan, namun masih terjajah secara diam-diam begini. Dulu, aku rela memerjuangkan segalanya agar kehidupan generasi ke depan dapat lebih baik. Namun ternyata, karena uang dan status sosial, rasa nasionalisme dan patriotisme harus tunduk dalam diri anak muda kebanyakan,’’ tak bisa kutahan air mataku.

            Diriku selalu berharap generasi muda dapat merdeka dari kebodohan cara pikir, tindakan, dan dampak negatif globalisasi. Sudah kami perjuangkan kebebasan dari perang senjata dan berbagai kekerasan. Aku sangat ikhlas jika sekarang hanya berharap dari singkong yang menjadi makananku sehari-hari juga bingkai yang entah kapan terbeli oleh orang-orang yang lewat di depanku.


“Masa mudaku sudah kuberikan untuk negara kita, Nak. Sekarang aku merenta, dan aku ingin ada yang tahu bahwa betapa sedihnya Indonesia masih punya bagian yang tertinggal setelah kemerdekaan yang sudah lebih dari setengah abad ini. Hanya karena uang, seseorang bisa lupa dari mana ia berasal. Meninggalkan tempatnya, untuk menyukseskan negara lain,’’ ucapku sambil melihat Hery, tunas bangsa yang barangkali dapat sadar untuk membangun harapan negara.
            Ia menyalamiku, dan mencium tanganku. Meminta doa dariku, lalu pulang dengan langkah yakin untuk desanya sendiri. Aku tidak menyangka begitu cepat reaksinya, mungkinkah karena melihat air mata orang tua renta ini?
“Terima kasih, Pak. Berjuang tak melulu soal uang. Tuhan akan tahu usaha kita. Saya akan pulang, Pak. Bapak adalah pahlawan saya.’’
            Kalimat yang ia sampaikan padaku. Aku tersenyum. Ia harapanku juga sekarang, selain singkong dan bingkai ini.
            Hari dengan panas matahari, debu, jalan raya yang macet, juga orang-orang dengan berbagai kesibukan tak pernah tahu jika ada hati yang sedih dengan terus memerhatikan perubahan jaman, dalam diamnya di bawah rindang pohon kresen. 

Sabtu, 18 Maret 2017

Desperado


Dear Risk Taker…
                Jika pada hari ini orang tahu keburukanmu, beri aku keyakinan bahwa kau bukan orang yang sama untuk hari esok. Jika pada hari ini kau hanya diabaikan, jangan pernah beri mereka kesendirian seandainya keadaan akan terbalik. Jika kau orang yang begitu kuat, tak mungkin kau punya masalah wajar seperti yang dihadapi mereka kebanyakan.

                Kini semua terlihat. Memang kau orangnya, yang sedang diuji untuk melewati hari ini.

                Tak ada yang salah, tapi keliru. Hanya saja suatu kekeliruan juga bisa membunuh lebih kejam daripada kau melakukan kesalahan. Untungnya kau masih hidup.

                Terkadang aku bingung dengan apa yang kau cari di bumi ini, jika memang tak pernah menemukan, rengkuh saja matahari. Namun, jika kau lebih tertarik pada gemerlap cahaya, ambil saja rembulan beserta  para gemintang. Tapi dirimu memang terlalu gila, hingga kau buat bumi suram tanpa terang.

                Dirimu mungkin hanya tahu apa yang terbaik, terbaik dalam hitungan mundur yang dimulai dari tiga sampai ke angka satu, lalu semua berubah. Ya, dengan cepat semua menjadi buruk, dan kau merasakan sedetik kehidupan yang mungkin terasa sedikit neraka.

                Menyerahlah pada hatimu. Coba lihat lagi, hatimu telah mengecil, tercabik oleh rasa laparmu, dan termangu dalam belenggu dingin penjara besi. Sungguh, ia terlalu tak pantas untuk mendapatkannya.

                Aku tahu kau hanya ingin berusaha menjadi apa yang kau mau. Berkelana, menyelam, atau terjatuh hingga tertelan lumpur mungkin ada dalam perjalananmu. Naas, akhirnya kau terhenti karena tujuanmu telah mati mendadak. Seketika, kau merasa sendiri dan jauh, kesal dalam sakit tanpa ada yang mau tahu. Namun, percayalah pada doaku yang terus hadir, meski diriku berada di sisi yang lain.

                Kau hanya perlu kembali, dan bawa semuanya kepada Tuhan. Bagaimanapun kerasnya pencarianmu untuk sesuatu yang kau inginkan, jika Tuhan tak pernah mendapatkanmu dalam setiap perintah-Nya, kau hanya membuang-buang waktu hidupmu saja. Percuma.

                Sudahlah. Apapun itu, kau berhasil mengajarkanku tentang kisah hidup yang lain. Kuharap kesadaranmu akan mengantarmu pulang kembali. Sesungguhnya Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk dirimu, dan Ia hanya menunggu.

Sabtu, 25 Februari 2017

Makna



            Hawa dingin langsung menyergapku ketika pelan-pelan aku terbangun dari tidurku, mataku terbuka sayu, menyesuaikan penglihatanku meski kelopak mata masih terasa berat. Sekelilingku gelap, dan hanya ada sinar lampu pelita yang kulihat cahayanya turut memberikan warna kuning keemasan pada dinding kayu rumahku. Ada bayangan ibu di sana, tapi aku tak bisa melihat seutuhnya karena terhalang sekat tipis pemisah ruangan antara kamar dan ruang tamu. Ibu sedang duduk bersimpuh, dan kini suaranya mulai terdengar, berusaha melafalkan huruf-huruf Al-Quran semampu yang ia bisa. Aku melanjutkan tidurku ketika kuperhatikan jarum pendek jam masih betah diam  di angka tiga. Sedangkan, suara ibu mengiringi penantian raja malam bertemu dengan sang surya.
***
            Aku sudah terbiasa hidup tanpa banyak kata. Bagi mereka di luar sana, mungkin berbagi cerita, bercanda, atau minta dinyanyikan sebuah lagu dari seorang ibu adalah hal biasa. Berbeda denganku, meminta ibuku untuk menyanyikan sebaris lirik lagu saja, aku tak tega untuk mendengarnya, apalagi bercanda, mungkin tanpa tawa.
            Jujur saja, aku terkadang bosan mendengar ayat Al-Quran jika yang melantunkan adalah ibuku. Aku tahu ini dosa, tapi aku merasa terganggu karena ucapan yang keluar dari mulutnya terdengar sama saja setiap hari, meskipun ayat yang dibacanya selalu bertambah. Selalu seperti itu, bahkan sampai mengkhatamkan Al-Quran.
            Ya, aku mengaku, ibu yang kumiliki seumur hidupku ini adalah seorang tuna wicara. Bisu, bahasa kasarnya. Tapi dia sangat menyayangiku. Aku juga sayang padanya, jika mungkin aku mencari seorang ibu yang sempurna di dunia ini, aku akan kembali pada ibuku sendiri, dan pencarianku berakhir padanya. Bagaimanapun, ibuku adalah seorang yang luar biasa. Bahasa kalbunya menenangkan getar resah hatiku.
            Ibuku tidak bisa menulis, apalagi untuk urusan membaca. Tapi herannya, aku tak pernah tahu bagaimana ibu bisa mengerti huruf-huruf hijaiyah, buktinya ia selalu lancar membaca Al-Quran, meskipun lidahnya tak lebih dari sekadar mempersulit ucapannya. Aku pernah menanyakan hal itu, tapi ibu hanya tersenyum dan menunjuk ke arah kepala dan dada. Aku tahu, maksudnya akal dan perasaan, tempatnya di otak dan hati. Itu saja. Terkadang aku menduga-duga bahwa ibu hapal ayat-ayat Al-Quran, tidak mungkin jika hanya membuka kitab tersebut, lalu membaca sesukanya, tanpa tahu apapun, karena menganggap orang lain juga memakluminya sebab ibu tuna wicara, dan sekadar melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hei! Al-Quran… kalimat-kalimat Allah ada di sana, terlalu durhaka dan kurang ajar jika bersikap begitu! Dan aku tak pernah mengenal ibu yang seperti itu.
            Ada kebiasaan ibu yang setiap hari tak bosan dilakukannya, ia selalu mengusap-usap kepalaku dan mengeluarkan kalimat yang tak pernah aku mengerti, ibu melakukannya ketika aku ingin berangkat sekolah dan ingin tidur. Aku tak pernah mengerti maksudnya, tapi aku malas untuk bertanya, sudah bosan, dan serasa tak ingin lagi mendengarnya. Ingin sekali aku menyuruh ibu menghentikan hal itu, tapi jika dipikir, aku ini anaknya, dan itu hak ibuku sebagai orangtua.
            Untuk mengisi kesendirian, aku biasanya melukis. Ya, melukis apa saja yang kuinginkan. Tetapi, hal yang paling sering aku lakukan adalah menggambar. Jika suasana hatiku sedang tidak baik, hal itulah yang kulakukan, begitu juga jika sedang gembira. Jarang aku mengekspresikan perasaanku untuk kutimbulkan secara langsung. Aku lebih suka tenggelam dalam pemikiranku sendiri dengan berbagai macam proyek berkarya. Bisa dibilang, aku penyendiri yang tak pernah kesepian.
***
            Minggu pagi, aku dan ibuku sarapan bersama. Hening sekali. Beberapa waktu kemudian aku membuka pembicaraan, yah… kupilih begitu karena kupikir setidaknya ibu masih mendengar suaraku hari ini. Meskipun kutahu ibu tak mungkin berkomentar. Aku sudah maklum dengan hal itu.
“Sebentar lagi, aku lulus SMA Bu, rencananya aku ingin langsung mencari kerja saja. Jika aku sudah bekerja, ibu tak perlu repot-repot menitipkan kue ke warung-warung.”  ucapku pelan.
Ibu hanya menatapku dengan senyum. Sudah kukatakan, tak mungkin ada komentar.
“Aku ingin menjadi tulang punggung. Coba ayah masih ada, dari dulu ibu tak perlu melakukan hal itu.”
Sampai di situ, selesai sudah. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
***
            Selepas dari SMA, aku sibuk mencari kerja. Aku juga lebih giat melukis. Sekarang aku menjual lukisanku untuk menopang perekonomian. Tentunya tidak setiap hari dapat terjual, tahu sendirikan bagaimana susahnya? Waktu pengerjaan juga tidak bisa sekali duduk, dan sasaran untuk calon pembeli kebanyakan tak sesuai rencana.
            Entah karena kerinduan pada seorang ayah, atau hanya mendapat celetukan ide, aku tiba-tiba saja ingin melukiskan potret sebuah keluarga. Ayah, ibu, dan aku. Sebenarnya, aku tak pernah bertemu dengan ayahku. Beliau meninggal saat aku masih dalam kandungan, begitu ibuku menceritakannya. Segera kubuka si lemari tua, saksi bisu yang tahu semua isi dari hidupku. Satu album usang dengan lembaran foto hitam putih yang mulai menguning sudah kudapatkan, mataku menjelajahi setiap bagian-bagiannya untuk menemukan sewajah nan jauh terasing dalam hidupku kini. Setelah mendapatkan satu foto yang setidaknya bisa kubaca air mukanya, tanganku sudah siap dengan pensil untuk membuat sketsa awal menggabungkan ayah yang berdiri di dekat ibu dengan perantara aku di tengahnya. Fotonya memang tidak seperti itu, aku hanya mempermainkan imajiku saja, seolah-olah ayah masih ada bersama aku dan ibu.
            Tiga minggu berlalu, hari ini lukisanku sudah bersandar di dinding ruang tamu. Tapi tidak untuk kujual, dan sangat kusayangkan sekali bahwa saat ini, lukisanku tak bisa terlihat seutuhnya oleh ibuku. Ibu kehilangan sebagian penglihatannya. Sudah lama ibu menderita katarak, lalu dioperasi, namun ternyata kornea matanya justru rusak. Kasihan ibu.
            Untungnya hasil penjualan lukisanku bisa menutupi segala kebutuhan hidup aku dan ibu, meskipun ibu tidak membuat kue  lagi. Sejak ibu kehilangan penglihatannya, saat itu juga aku baru menyadari bahwa ibu sebenarnya hapal Al-Quran. Aku mengetahuinya ketika ibu pertama kali membaca dalam pandangan gelapnya tanpa melihat Al-Quran dipangkuannya. Ibu… ibu… aku ini adalah anak yang paling beruntung di dunia. Dengan segala kekurangannya, ibuku adalah seorang hafidzah Al-Quran.
***
            Hari demi hari, minggu berganti bulan, dan akhirnya tahun-tahun baru berganti berlalu memberikan kenangan naik dan turun dalam kehidupanku. Aku yang dulu hanya bermimpi bisa membuat lukisan indah, sekarang justru memiliki galeri seni khusus tentang diriku. Jika dulu aku hanya berharap dapat mengenakan baju bagus buatan ibuku, sekarang butik yang tersebar di berbagai tempat rupanya telah memiliki satu empunya. Diriku. Ibu tak perlu membuatkan baju bagus untukku, aku akan buatkan baju yang ibu mau, juga untuk semua orang.
            “Tak usah menangis atau bingung lagi, Sayang. Mungkin hidupmu pernah merasa sepi tanpa ayah yang seharusnya dapat menemanimu, juga ibu yang dapat menyanyikan atau mendongeng cerita sebelum kau beranjak ke alam mimpimu. Maafkan ibu dan ayahmu. Tapi ketahuilah Nak, jika ayah bisa kau lihat… kau hanya melihatnya sedang tersenyum bahagia dengan air bening di ujung matanya, kau tak temui kesedihan di garis mukanya. Begitupun dengan diriku, mungkin aku tak pernah bicara denganmu secara sempurna, aku tak pernah melihat lukisanmu dengan jelas, tapi aku tak punya alasan untuk tak mendoakanmu, wahai putriku. Setiap usapan lembutku yang aku tahu kau selalu bosan dan tak pernah mengerti, setiap lantunan ayat suci yang aku tahu kau terganggu karena tak mungkin seindah mereka yang bersuara merdu, ketahuilah Nak… doaku selalu ada di sana, Allah selalu ada di setiap kau melangkah. Jika suatu saat aku harus menutup mataku, jangan bersedih… pesanku pada Allah untuk selalu menjagamu selalu didengar-Nya. Ia tak mungkin secacat diriku. Tak akan mungkin.”
            Aku terbangun dari tidurku. Itukah suara ibu? Ibu sedang apa di rumah? Apakah tetap bersama kesunyian?
            Aku tahu doamu, bu. Mungkin dunia boleh bilang aku tak punya ibu yang lebih sempurna dari orang lain. Tapi jika harus memilih, tetaplah ibu yang sepertimu yang aku cintai. Ucapanmu keluar dari hati, dan aku bisa merasakannya. Bahagiamu bukan dari mata, tapi ia turun ke pipi lalu berhenti di senyummu lewat air mata. Aku tahu cintamu dan cinta Yang Maha Segalanya telah mengiringiku hingga di Benua Biru ini, untuk karirku, karyaku, masa depanku, dan seterusnya. Lalu ayah, tetaplah bahagia di sana. Semua diciptakan dan terjadi bukan tanpa arti, tapi hanya karena makna tersembunyi di balik kabut kesedihan yang pasti berlalu.