Jumat, 21 Desember 2018

Satu Hari



            Terkadang jika kuputar kenangan di Hari Ibu, rasanya masih tersimpan perasaan kecewa dan sakit hati. Meski aku tahu, bahwa cinta seorang ibu tak perlu perayaan, tak perlu simbolis, juga tak perlu hadiah. Cukup melihat anaknya tersenyum saja, ia sudah luar biasa bahagia. Ibu tetap mencintai anaknya yang hanya apa adanya, meskipun anak yang dimilikinya tak sempurna sekalipun, ia dapat mencintai seutuhnya. Cinta yang tak punya rasa benci.
            Tapi bagaimana denganku? Manusia romantis yang berusaha mengoleksi sweet moment satu demi satu dengan caraku sendiri. Selalu punya hasrat untuk menyenangkan hati seseorang dengan persembahan yang manis. Aku akan merasa sangat berharga jika suatu hari ada yang mengatakan  ``I remember when you gave me…`` atau mungkin hanya sekadar tatapan dan sebaris senyum nostalgia.
            Sayangnya ibuku bukan orang yang mempunyai pandangan sama denganku. Bagi ibu, mengisi waktu dengan bekerja adalah hal yang lebih bermanfaat, daripada diam untuk memandangi benda sarat kenangan, atau larut dalam masa lalu. Aku rasa, semua hadiah atau apapun yang kuberikan untuk pelengkap ucapan Selamat Hari Ibu adalah sia-sia. Hadiahnya memang diterima dengan ucapan terima kasih, lalu disimpan, tapi setelahnya tak pernah diapa-apakan lagi. Entahlah, sudah berapa hadiah yang kuberi untuk ibu, tapi hasilnya sama saja. Selalu begitu.
            Ibu juga tak pernah memerlakukanku secara spesial, biarpun berkali-kali kuberikan hadiah, ibu tetap menyuruhku melakukan rutinitasku. Jika aku berbuat kesalahan, tetap saja dimarahi tanpa mengingat bahwa hari itu adalah hari kasih sayang antara ibu dan anak.
            Lalu sekarang apa yang sedang kulakukan? Keluar dari pusat perbelanjaan dengan membawa beberapa tentengan. Salah satunya adalah jaket hangat limited edition, yang kubeli untuk hadiah hari ibu. Pertama kalinya aku membeli pakaian untuk kejutan.
            Sialnya, hujan turun deras, sehingga menjadi hambatanku untuk menuju halte. Aku hanya berdiri di pinggir jalan dengan berteduh di bawah atap seng sebuah warung kecil yang tutup. Tak lama, di kejauhan terlihat penyedia jasa ojek payung menuju ke tempatku berteduh. Kebetulan sekali, batinku.
``Ingin menyeberang, Nona?`` awalnya wajah tersebut terhalang oleh payung besar, namun setelah tepian payung tersingkap, kami berdua sama-sama terkejut.
            Wajah yang sangat kukenali, teman satu kelas di sekolah. Idris.
``Idris, aku baru melihatmu begini….``
``Sudah lama begini, ayo menyeberang!``
            Aku dan Idris tiba di halte bis. Sambil menyodorkan uang, aku menatapnya penuh tanya. Rupanya Idris mengerti maksudku.
``Terkejut ya? hal ini semata-mata hanya untuk bertahan hidup saja.`` karena tak terlihat orang yang membutuhkan jasanya, ia duduk di sampingku.
``Oh, kukira kau juga hidup berkecukupan.`` jawabku.
``Maunya sih begitu….`` ucapnya bercanda.
``Sore begini baru pulang belanja?`` sambungnya.
``Ya, aku membeli hadiah untuk ibuku. Kau ingatkan hari ini hari apa?``
``Hari Ibu.`` jawabnya.
``Seandainya aku tak lama memilih hadiah, mungkin aku sudah pulang dari tadi. Kau sendiri, apa hadiah yang kau berikan untuk ibumu?``
``Doa saja.`` jawabnya enteng.
``Itu bagus. Aku juga tahu seorang ibu tak pernah mengharapkan pemberian apapun dari anaknya. Tapi sebagai ungkapan cintaku, aku selalu ingin memberinya suatu kejutan. Contohnya ya jaket ini.`` aku memerlihatkan sedikit jaket tersebut dari dalam tasku.
``Tidak buruk. Setidaknya itulah usahamu untuk menyenangkannya. Iya `kan?``
``Benar. Tapi biarpun hatinya sudah disenangkan, tetap saja kalimat perintahnya selalu keluar.`` keluhku.
``Lalu jika kuamati, ibuku tidak pernah terlalu memerhatikan hadiah yang kuberi. Jika sudah dimasukkan lemari, habislah ceritanya. Semua hanya dibiarkan begitu saja. Kau juga pasti pernah mengalami hal seperti itu, pasti sakit sekali `kan?`` sambungku.
``Aku tak tahu.``
``Tidak tahu?`` aku kembali bertanya.
            Wajahnya berubah merah perlahan menahan tangis. Beruntung ia bisa mengendalikan emosinya.
``Anak piatu tak pernah merasakannya….``
            Sungguh! Saat itu aku tersentak, sangat merasa tak enak kepada Idris.
``Saat aku lahir, ibuku dipanggil Sang Pencipta. Aku kira ketika ibu memarahi anaknya, itu adalah hal yang menyenangkan. Artinya ibu masih memerhatikannya. Bertahun-tahun aku merindukan bagaimana rasanya dimarahi, dan diperintah seorang ibu. Tapi tak mungkin terwujudkan?``
            Aku hanya terdiam mendengarkan Idris melanjutkan kalimatnya.
``Kau juga tak perlu sakit hati apalagi kecewa jika hadiah darimu hanya disimpan di lemari atau dibiarkan saja. Aku yakin, ibumu terlalu sibuk memerhatikanmu. Semua hadiah itu tak lebih berharga dari dirimu sendiri. Ibumu tak punya waktu untuk terlalu berlarut-larut dengan barang-barang tersebut. Yang membuat ibumu seperti itu adalah dirimu sendiri. Kau terlalu berharga.``
``Idris, seandainya kau bilang dari dulu, aku akan mengerti semuanya. Sekarang aku tahu ibu tak punya maksud mengabaikan semua pemberianku.`` ucapku mulai paham.
``Tak usah mengharapkan ibumu berdiri lama memandangi benda pemberianmu. Ibumu tak perlu melakukan hal itu. Kau masih bersamanya.``
            Sejenak ia terdiam, lalu melanjutkan kalimatnya kembali.
``Apa kau ingin melihat ibumu terus memandangi hadiah darimu, lalu ibumu bergumam `I miss the time you were around` dan larut dalam kenangan saat bersamamu? Hal itu lebih menyakitkan dari yang kau rasakan ketika hadiahmu tak punya tempat di hatinya.``
            Saat ia berhenti bicara, aku tak tahu lagi harus menanggapi seperti apa. Semua yang dikatakannya itu benar. Sekarang kami hanya sama-sama diam menatap jalan raya yang perlahan berubah sepi. Aku yakin, orang-orang lebih memilih berkumpul dengan keluarga di rumah, menikmati hidangan hangat dan menonton televisi.  Sedangkan aku masih menunggu bis dalam suasana hujan dan kedinginan, lalu menceritakan hal yang tak kusukai tentang seorang ibu kepada teman sekelasku. Miris.
            Selanjutnya, aku dan Idris sibuk dengan pikiran yang berkelana ke segala arah, meninggalkan realita kehidupan yang kami hadapi sekarang.
            Aku masih ingat betul bagaimana dulu ibu dan ayah memutuskan untuk bercerai. Ibuku memang orang yang sangat sibuk. Pada suatu hari, ketika kami sarapan, ayah mengatakan ``Jika kau terlalu gila kerja seperti ini, kau tidak akan melihat anak kita tumbuh.`` aku tak tahu apa yang membuat ibu menangis saat itu, kurasa ayahku sekadar memberikan nasihatnya saja. Ketika bekerja, ayah dan ibu tak pernah saling menghubungi jika memang tidak terlalu penting. Mereka mengutamakan profesionalitasnya. Namun, hal itu terus berlanjut sampai di dalam rumah. Tak ada komunikasi. Selang beberapa hari, ayah mengajakku untuk membeli hadiah sebagai permintaan maaf kepada ibu. Sifat ayah yang satu ini diturunkannya kepadaku. Selalu ingin membuat segalanya berkesan.
            Pada saat itu, aku langsung memilih sepatu high heels dengan model elegan, dan ayah membelikan satu buket bunga yang indah. Kukira semua kembali rukun seperti sedia kala, namun ternyata ketika aku bangun esok paginya, tak ada lagi makan pagi bersama. Bunga kemarin sore tergeletak dingin di atas meja makan menggantikan posisi ayah yang biasa makan bersama aku dan ibu. Anehnya, tak ada tangis atau ratapan dari ibu. Ibu hanya terlihat diam dan sedikit sendu saja. Ia bahkan berkata bahwa ketika aku masih tertidur, ayah masuk ke kamarku untuk memelukku sebagai ungkapan selamat tinggal. Beginikah jalan yang terbaik?
            Lambat laun, semua mulai membaik. Ayah dan ibu tetap menjalin silaturahim, dan ternyata perceraian itu membawa perubahan terhadap sikap ibu, ibu memerhatikanku tumbuh dewasa. Ternyata sikap yang tak kusukai darinya itulah bentuk perhatiannya kepadaku, dan aku baru menyadarinya sekarang. Aku juga bersyukur  karena sikap ayah yang romantis itu diturunkannya pada diriku, sehingga ibu tak pernah merasa kehilangan sekalipun ayah sudah tak bersama kami lagi.
            Begitu sempitnya pikiranku dulu, aku kalah telak dengan sahabatku Idris. Ia mengambil hikmah dari apa yang ia tidak miliki di dunia ini. Bahkan aku sendiri baru mengerti hal tersembunyi di balik ketidaksempurnaan sifat dan keadaan seseorang.
            Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Rupanya hujan bertambah deras ketika bis tiba. Entah karena terlalu laju atau bagaimana, jarak berhenti antara bis dengan halte tempatku menunggu terlalu jauh.
``Pakai jaket yang kau beli tadi. Ibumu tak pernah menunggu jaket itu sampai di tangannya. Ia hanya menginginkan kehadiranmu. Jangan korbankan kesehatanmu, atau kau hanya ingin membuatnya kehilangan senyum karena rasa bersalah terhadap hadiah di Hari Ibu yang terlalu kau paksa.`` Idris mengatakannya kepadaku ketika aku terpaksa harus menembus hujan agar tetap mendapat tempat duduk di dalam bis.
            Aku tersontak, mengapa hari ini semua baru kumengerti? Begitu banyak pelajaran berharga untuk hari ini, yang kudapatkan dari seorang anak piatu. Tepat di Hari Ibu.
``Terima kasih, Idris.`` aku tersenyum dan segera menuju bis.
            Idris, ibumu pasti bahagia di sana. Aku yakin kau pun dapat merasakan kasih sayangnya meski dunia serta kehidupan antara dirimu dan ibumu untuk saat ini harus terpisah. Karena Hari Ibu bukan masalah hadiah, atau sekadar ucapan. Tapi tentang cinta yang tak punya batas, tak punya benci, dan tak kenal jauh.
            

Jumat, 30 November 2018

Al-Fatihah



Hakikatnya, cinta diciptakan antara satu hati dengan hati yang lain, terkadang bisa terucap namun sebagian manusia urung menunjukkannya. Karena itu juga, ada manusia yang harus menelan penyesalan, atau hatinya membusuk demi penantian. Jika beruntung, dunia akan terasa benar, indah, dan problema sebesar apapun dapat dikecilkan dengan cinta. Apabila ada hati yang merasakan hal seperti itu, yakinlah segala-galanya yang dijunjung tinggi adalah cinta. Namun jika terluka, ia akan tenggelam sedalam-dalamnya dalam air mata darah, dan jika sial, ia akan takut dan akhirnya tak tahu lagi bagaimana caranya mencintai dan jatuh cinta. Ajaib, cinta itu manis tapi juga pahit.
            Suasana begitu mendung, awan seolah ingin memuntahkan beban dalam tubuhnya, namun belum saatnya dikeluarkan. Tak ada guntur yang membentak atau juga petir yang menusukkan kilatnya. Hanya angin kencang di sini, menggoyangkan tangkai-tangkai bunga yang kupegang juga gaun panjangku.
            Tahukah kau, hidupku dulu tak pernah seperti ini. Namun entah bagaimana semua kau sulap bak abracadabra, kau belokkan cara pandangku, lalu kau tempatkan aku di ketidakberdayaan yang sangat lemah dalam diri seorang manusia. Lalu aku tak bisa lagi untuk merasa lebih dari yang lain, tak berani untuk menatap langit, dan jika melihat tanah, akan kutemukan bagaimana hinanya diriku dengan dosa. Kau membuat diriku selalu ingin bersimpuh sujud dengan tangis, dan meminta sebagaimana serendah-rendahnya seorang hamba kepada penciptanya.
            Sebelum kau hadir, semua kuanggap sepele. Langkahku, jiwaku, dan dosaku. Langkahku terayun tanpa tahu sejauh mana ia melangkah, jiwaku terlalu merasa ringan hingga ia bebas sebebas-bebasnya. Lalu dosaku tak pernah memberi kabar bahwa jagat raya pun tak sanggup menampungnya.
            Hingga akhirnya aku mengerti bahwa aku ini orang yang tak tahu diri, tak tahu agama, dan aku hanya mengenal Allah sebagai tuhanku. Itu saja. Padahal jika ditanya tentang tokoh dunia, masalah sains, atau ekonomi, maka pembicaraan bisa berlangsung hingga larut malam.
            Sayang sekali, karena kedunguanku kala aku tak mengerti tentang apa yang kau selalu bicarakan, tentang apa yang selalu kau bahas, ikatan sahabat antara kita merenggang dan aku sendiri yang memutuskannya. Hal itu bermula ketika kau memberikan pertanyaan keutamaan sebuah surah Al- Fatihah, lalu aku hanya terbungkam, dan aku akhirnya turun dari panggung debat dengan sorak ejekan. Sungguh aku malu, dan dendam karenamu pernah tertahan di hatiku.
***
            Beberapa bulan kemudian, aku hampir mati. Terbaring di tempat tidur rumah sakit, hanya karena keluhan kecil yang kurasakan dari dulu, dan tiba-tiba `radang selaput otak` harus keluar dari mulut dokter untuk menamai penyakitku.
            Kau datang menjenguk, dan kau tak pernah mengerti bahwa aku tak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi meski aku mati sekalipun. Mungkin aku satu-satunya orang yang tak suka dengan wajah cerahmu, senyum teduhmu, dan aura religius dalam balutan baju koko dan peci putihmu.
``Hampir mati rupanya kau, bisakah kau tamatkan bacaan Al- Qur`an yang kau tinggalkan di masa kecilmu dulu?``
            Pertanyaan sangat menjengkelkan. Tak melihatkah kau bagaimana pucatnya wajahku menahan penyakit ini? Aku tak ada urusan lagi dengan hal semacam itu!
``Hartamu terlalu sayang jika hanya ditinggalkan begitu saja tanpa pemilik. Siapapun tak bisa menjamin kau hidup sampai esok hari. Sekarang juga, berikan harta yang kau punya bertahun-tahun itu di jalan Allah. Setidaknya bisa meringankan timbangan dosamu di alam sana. Lakukanlah sekarang.``
            Arrrgh! Demi apapun aku tak ingin melihat wajahmu. Apa kau sebodoh itu? Aku ini sudah sangat lemah, lalu kau menyuruhku untuk mengeluarkan hartaku pada saat itu juga. Bagaimana bisa? Kedatanganmu di sini tak berguna, kau hanya menggangguku saja.
``Mati saja kau! Akan kukirim Al- Fatihah sebanyak yang kau mau!`` ucapku mengungkit atas kesalahannya di waktu dulu. Aku terlalu letih dengan pembicaraannya.
``Bagus. Bacalah Al- Fatihah sebanyak-banyaknya. Berbahagialah jika aku mati lebih dulu. Kuharap bebanmu akan ringan.`` ucapnya tenang.
            Benarkah apa yang ia katakan? Lalu ia pulang, dan aku terus membaca surah tersebut dalam hati, meski aku tak tahu maknanya. Aku hanya berharap tak akan melihatnya lagi.
***
            Berangsur-angsur keadaanku membaik, kata dokter ini sebuah keajaiban. Entahlah. Aku memulai aktivitasku seperti biasa, berangkat ke kampus, belajar, dan mengerjakan apa yang biasa kukerjakan. Namun kabar mengejutkan kuterima dari salah satu temanku, bahwa mantan lawan debat yang menjatuhkanku hanya karena pertanyaannya tentang Al- Fatihah, seminggu yang lalu raganya telah dijemput malaikat Izrail.
            Apakah harapanku yang menginginkan agar ia mati begitu cepat terkabul? Bagaimana aku seharusnya? Sedih kah, atau sebaliknya? Apa-apaan ini?
            Rupanya kau telah lama menahan rasa sakit yang bersarang di rongga dadamu. Namun kau sama sepertiku, tak pernah menggubris dan selalu menahan rasa yang mengganggu. Aku paham, kau tak pernah menganggap serius tentang hal itu. Ketika kau sakit, maka kau akan menahannya sekuat yang kau bisa, lalu ketika telah hilang rasa sakit itu, maka kau akan beraktivitas seperti biasa. Seolah tak terjadi apa-apa di beberapa waktu yang lalu. Ya, kau sama denganku. Lalu perbedaannya adalah kau lebih kuat menghadapinya, hingga dirimu sendiri pun tak sadar bahwa penyakit itu membawa umurmu. Sedangkan aku terlalu lemah untuk melawan apa yang kuderita selama ini, hingga aku menyerah. Kubiarkan tubuhku ditusuk dengan berbagai macam suntikan, dimasukkan berbagai macam obat, dan kubiarkan orang-orang disekitarku dikejutkan dengan penyakit yang termasuk mematikan jika terlambat penanganannya.
***
            Kini aku hidup dalam ratapan kesedihan, sobat. Hariku setelah kau pergi penuh kekosongan, bagaimana pun juga kau temanku semasa kecil. Suatu malam, aku hanya sekadar ingin tahu ada apa sebenarnya dengan surah tersebut, dan karena bayanganmu aku menangis setelah mengerti apa yang kau maksud.
            Saat aku sakit tak berdaya, kau menyuruhku untuk menamatkan bacaan Al- Qur`an. Ya, kuakui Al- Qur`an hanya kujadikan bacaan masa kecilku saja, ketika kita sama-sama mengaji di taman Al- Quran, lalu kutinggalkan semuanya demi setumpuk pelajaran untuk dunia kerja, dunia uang. Aku tahu bagaimana lelahnya menuntut ilmu, tahu bagaimana lelahnya bekerja, hingga aku simpan semua hartaku untuk kesejahteraan hidupku sendiri.
            Aku tak pernah menyangka bahwa maksudmu hanya memintaku untuk membaca Al- Fatihah, dengan membacanya maka sebenarnya aku sudah melaksanakan apa yang kau perintahkan saat itu. Aku tak tahu, aku hanya membaca agar kau cepat pergi dari hadapanku.
Sekarang, aku mengerti keutamaannya. Aku sembuh karena aku membacanya, tentang Al- Qur`an dan tentang harta yang pernah kau katakan, hanya dengan surah tersebut aku dapat melakukannya meski aku terbaring lemah sekalipun. Rupanya kau beri aku jawaban atas pertanyaan yang pernah membungkam mulutku.
***
            Baiklah, semua telah terjadi. Kau orang baik yang terlalu dicintai Allah, karena itu ia mengambilmu, Ia tak ingin kau menjadi seperti diriku. Lalai dalam beragama. Namun apakah kesedihan ini tetap abadi? Kita telah melewati tahun bersama, melewati musim bersama, dan kau mengakhirinya sendiri. Satu hal yang masih kurasakan hingga saat ini, jauh di perasaan terdalam, aku tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Dulu sempat kukira kau tak pernah merasakannya, namun rupanya kau tetap tak ingin aku mati. Tetap ada cinta di surah Al- Fatihah yang kini telah kutemukan karena dirimu.
            Kau meninggalkan rasa itu dalam hatiku, dan aku tak tahu lagi apakah masih ada orang di luar sana yang memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri dengan cara yang sama sepertimu. Jika ada, mungkinkah hatiku akan terjatuh untuk kesempatan kedua yang diberikan Allah padaku?
            Kukirimkan Al- Fatihah untukmu di sana. Biarkan bunga ini layu di atas tanah pembaringanmu. Berbahagialah.  
            

Sabtu, 03 November 2018

Fly Away


            Jika ingin melihat kejujuran, maka kita bisa dengan mudah melihatnya pada anak kecil. Dalam jiwa-jiwa yang masih murni. Tak punya beban untuk merentangkan kedua tangannya, tak punya lelah untuk mengayunkan kakinya berlari. Jika ingin melihat lagi, apa yang paling sering mereka minta ketika memainkan kertas lipat? Mereka ingin kapal besar yang selalu mengudara ada di tangan mereka. Mereka ingin kendalikan mesin-mesinnya ketika diterbangkan. Dengan meniup ujungnya dahulu sebelum dilayangkan ke arah yang diinginkan. Apa yang mereka tiru setelah menontoh Superman? Mereka ingin punya sayap untuk menyelamatkan kebenaran.

            Anak kecil selalu begitu. Kita dulu juga begitu. Hal menarik dan sangat diinginkan manusia sebenarnya adalah terbang. Mungkin jika dengan terbang, akan sangat mudah untuk menyentuh awan-awan putih, akan sangat mudah melihat bumi yang indah, akan sangat mudah untuk berteriak bebas. Manusia ingin sekali terbang, tapi tak punya sayap. Begitulah hal yang dilihat dalam pandangan seseorang.

            Sampai pada suatu hari, seseorang itu tak ingin lagi mengatakan `good bye` untuk melepas siapapun yang ingin mengudara. Pernah ada sesuatu yang sedihnya luar biasa terjadi. `Good bye` baginya seakan menjadi ucapan selamat tinggal sungguhan tanpa harus melihat lagi. Seakan benar-benar membiarkan siapapun yang mengudara berhadapan dengan alam, berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk lainnya. Ia pernah mengucap selamat tinggal pada seseorang dan tak pernah melihat orang itu kembali lagi. Mungkin `good bye` sebagai salam penutup yang terkutuk versi dia sendiri.

            Di waktu-waktu berikutnya seiring perubahan angka, bulan, dan tahun pada kalender. Entah sudah berapa kali kata `see you` terucap sebagai doa agar dapat bertemu kembali. Ia menjadikan `see you` sebagai janji bahwa tak ada yang harus pergi dan ditinggalkan.

            Namun lagi-lagi, janji itu pupus ditenggelamkan laut. Ia kehilangan untuk yang ke sekian. Bahkan Tuhan pun ia marahi. Ia salahkan Tuhan dan mengingkari kasih sayang-Nya. Ia bilang Tuhan tak adil, tak beri kesempatan pada mereka yang seharusnya terbang bersama mimpi-mimpinya. Ia menangis. Menganggap Tuhan telah berkhianat. Menganggap Tuhan tak indah dalam membuat skenario.

            Seharusnya Tuhan boleh balas marah karena perlakuan hamba terhadap-Nya.

            Namun ternyata tidak. Ia justru mengirimkan seorang anak kecil yang berjalan mendekati, sebagai perantara kasih-Nya Yang Maha Lembut.

`Kata mamahku, kita gak usah sedih. Nanti kita juga terbang, terbang yang tinggi. Nanti kalau aku sudah bisa terbang, aku akan nyusul papahku,`

***
Mesin-mesin besar dan canggih, manusia dengan kompetensi mumpuni, bahkan kapal-kapal terbang dengan berbagai daya antisipasinya sekalipun, tak ada yang berjanji dan tak pernah dijanjikan untuk abadi. Ada waktunya untuk benar-benar terbang tinggi. Bahkan jika raga hancur, maka jiwanya tetap terbang. Adalah waktu dimana Tuhan mengabulkan impian yang dibuat seseorang secara jujur ketika jiwanya masih murni.

Sabtu, 29 September 2018

When There is Still Time

Suatu hari nanti, ada saatnya dimana kaki ini berhenti untuk melangkah. Mata ini menutup selamanya tak kan terbuka lagi. Lalu segalanya terbungkam hening. Raga ini akan sendirian menghabiskan massanya di tanah merah. Tak ada lagi kebaikan yang dapat dikerjakan, tak ada lagi urusan-urusan yang menyita waktu. Justru hanya menunggu, entah dengan diterangi cahaya Sang Khalik, atau justru kegelapan yang menelan diri dalam ketakutan.

Suatu saat akan habis daya untuk menuliskan nilai-nilai kebaikan yang Tuhan berikan padaku. Nanti, ketika janji-janji kehidupan yang Tuhan gariskan padaku sudah lengkap terpenuhi, aku akan menghadap pada-Nya membawa segala pertanggungjawaban. Tak akan ada lagi yang dapat kukerjakan atau kuperbaiki, meski sekecil apapun.

Aku tak pernah bilang bahwa aku adalah orang yang selalu baik, apalagi untuk taat tanpa pernah mengingkari segala ketetapan. Karena toh aku pernah bebal dalam keimanan, aku pernah hebat untuk tak menyertakan Tuhan dalam setiap waktuku. Tapi masih saja, Ia menyayangiku. Cinta Tuhan yang tanpa syarat.

Ketahuilah, kadang aku malas untuk menuliskan hal-hal begini sebagai konsumsi publik. Seakan menunjukkan kelemahan yang seharusnya kuberi privasi. Lagi, menyita waktu untuk bergumul di sudut pikir, berdiskusi pada diri sendiri, tanpa tahu apakah ini membawa manfaat atau tidak.

Namun biarkan ini menjadi ladang amal yang kutinggalkan kelak ketika aku benar-benar kembali pada-Nya. Agar banyak yang tahu dan mengerti juga bahwa Ia memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebab aku tak tahu lagi harus berbuat baik yang seperti apa untuk membuat pintu besar berukir indah itu mau membuka jika aku ada di depannya. Biarkan segala macam tulisanku menjadi catatan-catatan kecil pengingat betapa indahnya sebuah hikmah kurasakan.
Mumpung masih diberikan kesempatan, kuceritakan satu hal yang sampai saat ini membuatku mengerti bahwa Tuhan memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bismillahirrahmanirrahim. Setiap orang, kelak akan punya perjalanan spiritual mereka masing-masing, bukti bahwa Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.

Tuhan bisa melakukan segalanya, bukan? Mengambil satu nyawa bukanlah hal yang susah. Jika Ia berkehendak, hari ini aku sudah tinggal nama. Perbedaan hidup dan mati ternyata memang sungguh tipis sekali. Ketika ragaku tak tahu apa-apa lagi, nyawaku justru tengah berlari, menuju sebuah pintu besar berukir. Besar sekali pintu itu. Di dalamnya ada cahaya putih, orang-orang pada masuk ke dalamnya. Aku mau ikut. Namun pintu itu segera tertutup, menyisakan aku dan beberapa yang lain. Gelap, pintu itu telah tertutup. Aku kebingungan dan merasa takut, seakan tak ada lagi pertolongan dari tuhanku. Kukira hidupku telah berakhir, dan pintu surga menutup dariku.

Ternyata Tuhan memulangkanku lagi kembali ke raga yang masih terbujur. Perjalanan itu sangat berharga sekali, memberi tahu bahwa aku masih bisa memperbaiki segala yang belum benar, memberikan kesempatan untuk mengerti bahwa ajal bisa kapan saja datang, tak peduli seberapa baik atau buruk amal kita.

Nanti, ketika janji-janji kehidupan yang Tuhan gariskan padaku sudah lengkap terpenuhi, aku akan menghadap pada-Nya membawa segala pertanggungjawaban. Tak akan ada lagi yang dapat kukerjakan atau kuperbaiki, meski sekecil apapun. Semoga tulisan-tulisan yang telah tertulis dariku menjadi ladang amal untuk menolongku.

Mencari Apa yang Masih Kurang


Aku sangat mengerti, bahwa aku masih tersesat. Pernahkah kau merasakan, kau punya segalanya, perutmu kenyang, ragamu sehat, rutinitasmu lancar? Hingga kau akhirnya bosan, lalu mencari apa yang masih kurang? Aku merasakannya. Terlalu banyak ambisi, hingga aku lelah mengejarnya. Ada satu ruang yang kosong di hatiku, ruang kosong itu semakin lebar memakan tempat di sekitarnya.

Ada hal yang dulu kucari-cari, yang entah apa, dan tak pernah kutemukan. Aku berhenti mencari, lalu kutinggalkan. Aku berlanjut untuk menghidup di kehidupanku. Menyambut apa yang terjadi, dan membiarkan apa yang berlalu.
Hingga akhirnya aku sampai di titik ini, dengan hati yang benar-benar kosong. Aku bingung, tidak ada hal yang bisa aku jelaskan untuk menjadi sebuah sebab. Lalu aku berpikir, seumur hidupku, apa yang telah kuperbuat? Rupanya ada yang salah dengan hidupku.

Ketika tak ada seorang pun yang bisa kuminta mengerti, aku tersadar bahwa Tuhan lebih tahu jalan keluarnya. Kesendirian ini membawaku semakin dekat dengan-Nya. Aku baru tahu nikmatnya memohon, nikmatnya memuji nama-Nya. Tuhan, begitu hilangnya diriku selama ini….

Aku mulai menata hidupku lagi, namun aku tak mengajak siapapun. Aku hanya takut jika aku tak bisa menjadi apa yang kuharapkan. Secara perlahan kujalankan apa yang memang menjadi anjuran dan perintah.

Terkadang aku masih khilaf, malas, bahkan rasa kurang itu masih ada. Namun perlahan jua, ia mengisi ruang yang kosong itu.

Dari situ, aku menemukan banyak pelajaran. Hidup ini bukan hanya tentang dunia, dunia ini sudah terlalu penat, sudah penuh dengan berbagai macam kelakuan manusia, yang membuatku sendiri terkadang merasa sakit, marah, juga menangis.  Tapi itu bukan apa-apa. Di luar sana, ada mereka yang berjuang lebih keras, bahkan mereka sendiri tak menyadari bahwa mereka adalah orang yang hebat.

Aku baru tahu nikmatnya mengadu pada Tuhan, nikmatnya  bersujud di rakaat terakhir, hingga sangat memohon perlindungan-Nya. Aku baru merasakannya. Terakadang, di sela-sela waktu senggangku, aku memutar memori yang telah berlalu, membanding-bandingkan diriku dulu dengan sekarang. Hingga aku tahu bahwa Tuhan tak pernah melepasku sendiri. Tak ada yang kebetulan, semua telah diatur dengan hasil yang tak pernah kacau. Percayalah.

Aku tidak bisa berbohong bahwa aku masih menginginkan kehidupan seperti orang lain. Aku terlalu memandang hidup orang lain dengan cara yang berlebihan. Aku melihat mereka bisa membeli barang mewah dengan mudah, dapat ke mana saja dengan mudah, dan terkenal, punya teman banyak. Hingga aku lupa bersyukur bahwa hidupku begitu tenteram dan damai.

Aku punya kedua orang tua yang begitu menyayangiku, meski mereka tak pernah menyatakannya, aku masih bisa tertawa lepas, bercanda dalam kekeluargaan, berkumpul dalam keharmonisan terutama jika lebaran tiba. Masih banyak lagi. Sebenarnya, hal itulah yang mahal, berharga, dan tak dimiliki semua orang. Rupanya, aku terlalu melihat ke atas pada hidup orang lain, padahal belum tentu juga mereka menikmati kehidupannya sendiri yang selama ini kuanggap indah.

Aku lupa jika di bawah sana masih banyak yang bisa tersenyum ketika di hadapannya hanya ada nasi dengan lauk kerupuk, aku lupa jika masih banyak yang memimpikan punya rumah tembok, bisa tiduran dengan menonton televisi, bisa merasakan kesegaran kipas angin ketika udara luar panas menyengat. Aku lupa.

Aku terlalu menuntut pada Tuhan minta ini minta itu, memohon dengan amal yang tipis, dengan dosa yang tak lepas dalam setiap hari-hariku. Aku memohon sesuatu yang mudah untuk dikabulkan-Nya, sesuatu yang bisa saja dapat merubah hidupku untuk selama-lamanya, sesuatu yang luar biasa untukku. Namun Tuhan Maha Tahu, Ia tak ingin diriku semakin lupa. Tuhan tetap memegang janji-Nya. Jika Ia tidak mengabulkan, maka sesungguhnya Ia akan memberikan yang lebih baik.

Tuhan, aku telah menemukanmu. Meski aku tahu Kau tak pernah sedetik pun meninggalkanku. Aku hanya baru tersadar setelah sekian lama merasa ada sesuatu yang masih kurang.
 

Jumat, 07 September 2018

The Beauty that Hard to Find

Sebelumnya, kukira kota besar hanya tempatnya kepenatan, hilang sabar rasanya jika terlalu lama terjebak kemacetan di bawah terik matahari. Kukira kota besar hanya tempatnya segala racun, mulai dari asap knalpot sampai berbagai limbah yang dibuang bebas sembarangan. Kukira kota besar hanyalah dua kata yang digunakan untuk menyebut secara singkat tentang sebuah tempat yang minim lingkungan hijau, dengan udara panas imbas dari penggunaan pendingin ruangan untuk bangunan-bangunan tinggi yang banyak sejauh mata memandang. Tempat dimana bisa selalu melihat kening orang-orang berkerut-kerut dengan urusannya masing-masing, tempat anak-anak kecil membawa gitar dengan nyanyian seadanya menyusuri trotoar dengan sandal-sandal jepitnya yang sudah tipis sambil memegang kantong plastik berisi recehan hasil mengamen. Tempat kaum borjuis menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan, pun sama seperti hari biasa. Kota besar juga tempat para jelata bersesak-sesak tinggal di pemukiman  yang begitu padat demi hidup yang diperjuangkan mati-matian.

Kukira memang hanya begitu. Banyak hal yang sebenarnya tak ingin kulihat jika melintasinya. Kadang jengkel, tapi kadang lagi mengiba menyaksikan kelakuan manusia yang bermacam-macam. Sampai-sampai, dulu sempat berpikir bahwa tinggal di kota besar seperti itu sama saja seperti sesak napas.

Baru kemarin. Aku mencoba mencari apa yang indah dari kota itu. Terus terang, rasa engganku dari dulu sekali tidak pernah berubah terhadap apa yang disuguhkan kota itu. Aku hanya sibuk pada urusanku sendiri. Bersama sinar matahari dari arah barat kemarin, aku menyusuri sungai yang dibanggakan kota besar itu. Entah apa bagusnya. Airnya berwarna coklat dan aku tahu itu dalam. Dari dulu sekali, aku selalu merasa ngeri jika harus berada di tengah-tengah air yang dalam, kan tak semua orang tahu persis apa yang terjadi di dalam air sana. Serasa ada monster besar yang siap menenggelamkan.

Baru kemarin aku mencoba berani pada rasa takutku sendiri. Bicara dan tertawa seakan aku tak punya pemikiran se-ngeri itu. Jadilah aku menyusuri sungai itu. Begitu ramai dengan anak-anak yang unjuk kebolehan loncat dari pembatas sungai dengan gaya salto. Ada yang tertawa-tawa bermain air membantu ibunya mencuci piring di sungai itu, ada yang memancing ikan sambil ngobrol dengan teman di sebelahnya, ada yang menikmati pemandangan sungai sore hari dari dalam rumahnya. Banyak aktivitas menyenangkan yang kulihat. Mereka tertawa, tersenyum, bercanda dengan orang di sekitarnya. Di rumah kayu, pinggiran sungai.

Ketika melewati bawah jembatan, ternyata ada kehidupan lain yang baru kutemui. Suara kelelawar nyaring bersahutan terbang ke sana ke sini menunggu malam, dan mungkin terganggu oleh deru mesin. Menggema nyaring.

Gerimis pada saat itu, namun sinar matahari tak mau terlindung awan. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang sesekali merentangkan sayap mengisi pundi udara. Perlahan warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u muncul di langit yang kotor dampak polusi kota itu. Tetap cantik. Bahkan aku tak berhenti mengabadikan segalanya lewat kamera handphone. Rasanya, aku seperti orang yang norak. Sudah lama tak melihat pelangi, hanya sibuk dengan urusan sendiri.

Semua indah. Alhamdulillah Allah masih melindungi dari hal ngeri yang kubayangkan sendiri. Aku baru mengerti kota besar itu memesona justru dari tempat yang paling kutakuti, overthinking terhadap monster besar di sana. Semua kusaksikan dalam perjalanan sederhana sore kemarin.

Siring, Banjarmasin. 
31 Agustus 2018.

Rabu, 15 Agustus 2018

Wahai Ibu Pertiwi, Kami Minta Maaf


          Tujuh puluh tiga tahun yang lalu, Indonesia bebas meski belum sepenuhnya. Masih banyak yang belum beres, bukan? Namun harapan-harapan di waktu itu sudah tidak dapat dibendung lagi, tidak sabaran untuk cepat-cepat mengibarkan Sang Merah Putih. Semangat dari para golongan mudamu mendesak para tokoh proklamator, di pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok. Tujuan golongan mudamu hanya untuk membersihkan campur tangan orang-orang Jepang dari para tokoh proklamator.

            Berhasil. Entah apa jadinya jika di antara mereka saling bersikeras dengan pendapat sendiri. Ada yang pilih untuk mengalah ketika golongan muda mulai tak peduli untuk mendengarkan meski sejenak. Tak punya pilihan lain kecuali mengikuti kemana mereka akan membawa. Di pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok.

            Setelah ada jaminan bahwa kemerdekaan akan diproklamasikan esok di tanggal 17 Agustus, mereka mengembalikan para tokoh proklamator ke Jakarta di malam tujuh belas itu. Esoknya, perumusan naskah proklamasi dilaksanakan, disaksikan, dimusyawarahkan, hingga tercapai `atas nama bangsa Indonesia`. Diketik oleh Sayuti Melik.

            17 Agustus 1945. Soekarno, yang kemarin pilih untuk mengalah dan hanya mengikuti kemana mereka membawa, pagi itu pada pukul 10.00 WIB berdiri di Jalan Pegangsaan Timur didampingi Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sang Merah Putih hasil jahitan dari Ibu Fatmawati perlahan naik menuju ujung tiang diiringi lagu Indonesia Raya yang tercipta dari WR Supratman. Di luar dari itu, masih banyak yang belum beres. Mereka sadar bahwa masih banyak yang harus diperjuangkan. Tapi tetap saja, Indonesia merdeka!

***

            Tujuh puluh tiga tahun kini, Indonesia telah gonta-ganti kepemimpinan. Indonesia sungguh indah dengan alam, budaya, masyarakat yang majemuk. Keindahannya sangat unik, susah untuk disamakan dengan negara lain. Tapi tetap saja ada jelek-jeleknya, katanya. Pahamilah, kita bangsa Indonesia yang kurang sadar dengan kondisi negara sendiri.  Ribuan slogan untuk jaga kebersihan mungkin cuma omong kosong jika kita tak memulai untuk membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Perubahan kecil saja dulu, tak usah repot-repot bawa nama pemerintah yang belum berhasil membereskan pekerjaannya dan belum berhasil menyadarkan masyarakatnya. Toh Indonesia milik kita bersama, jadi yang mesti bersih harusnya kita semua.

Agar jelek-jeleknya semakin berkurang, kita seharusnya dapat mempertimbangkan perasaan orang lain. Mengapa harus meludah sembarangan plus dengan cara masa bodoh pada keberadaan orang di sekitar? Toh kita bisa bersikap sebiasa mungkin hanya untuk hal seperti itu, cari tempat, lalu tutup dengan pasir jika perlu. Sama untuk hal asap rokok, mengertilah bahwa tak semua orang bisa bersikap toleran, tapi juga tak semua orang berani memperingatkan secara langsung di depan muka.

Untuk hal kecil seperti ini kita masih ribut. Lihat yang kemarin, tujuh puluh tiga tahun yang lalu Ir. Soekarno memilih untuk mengalah dan mengikuti kemana golongan muda akan membawa. Di pagi-pagi buta dalam Rengasdengklok. Padahal jika ingin berpendapat, beliau bisa bersikeras juga. Akhirnya terjadi proklamasi, lalu Indonesia merdeka.

Sekarang, apa salahnya untuk nurut pada norma yang berlaku. Mulai dari menjaga lingkungan sampai etika di tempat umum, sepertinya tak ada rugi-ruginya jika kita mulai. Supaya Indonesia berkurang jelek-jeleknya. Iya, setiap orang pasti punya alasan ketika melanggar. Setiap orang bisa bersikeras untuk mempertahankan pendapatnya, tapi semua orang juga punya hak untuk hidup dengan nyaman, begitupun si pelanggar.

Wahai Ibu Pertiwi, kami minta maaf karena terlalu ribut tentang siapa yang terbaik untuk memimpin negeri, tentang segala protes kurangnya sarana ini-itu, kurangnya bantuan ini-itu, hingga pecahnya persatuan hanya karena perbedaan pendapat yang juga mudah terprovokasi. Kami lupa hal-hal kecil yang harusnya sibuk kami lakukan daripada terus mengkritik kinerja pemimpin. Padahal, kami pun belum tentu jauh lebih baik.

Indonesia. Kenapa harus ada gajah yang diracun sampai mati? Kenapa harus ada orang utan yang dibakar sampai mati? Kenapa harus ada pencurian helm di sana-sini? Kenapa harus ada perang petasan di bulan suci? Kenapa sebagian orang senang menciptakan hoax? Kenapa diskriminasi hukum sampai tega dijatuhkan untuk mereka para tubuh renta yang terpaksa mengambil tiga buah kakao atau sebongkah singkong? Kenapa orang-orang berduit yang terbukti senang mencuri justru dapat fasilitas mewah di balik jerujinya? Wahai Ibu Pertiwi, kami minta maaf  telah membuatmu semakin jelek dengan perbuatan kami sendiri.

Senin, 30 Juli 2018

S'mthing that Can't be Seen

Bila sinar mentari telah sedikit saja muncul di awal pagi, siapa sih yang tidak terpesona dengan keindahan alam dalam balutan udara sejuknya? Tentunya awan-awan akan terlihat begitu lembut terhias warna gradasi yang dipermainkan mentari. Sedangkan daun-daun masih basah dengan embun-embun yang bergantung menunggu jatuh ke tanah yang lembab. Kicauan burung dan ayam sepertinya hampir setiap pagi mengiringi pergerakan sang mentari, mengisi awal pagi yang masih sunyi dari aktivitas hidup manusianya.

Sungguh sebuah pagi yang lengkap ya. Mungkin kita telah terbiasa dengan kokok ayam di pagi hari, yang bagi kebanyakan orang kokoknya menjadi alarm untuk bangun pagi. Tapi bagaimana jika ayam berkokok di waktu malam atau ketika hari masih gelap? Mengingat, ayam merupakan hewan yang akan mengalami rabun ketika hari beranjak gelap. Sehingga sangat janggal sekali jika mendengar ayam berkokok di waktu malam. Di masyarakat, banyak mitos yang beredar, mulai dari kehadiran makhluk halus hingga akan lahirnya seorang anak. Tidak bisa disalahkan, jika banyak masyarakat yang masih mempercayai hal tersebut. Mulai dari faktor keterbatasan informasi hingga kurangnya inisiatif masyarakat untuk mencari penjelasan ilmiah, juga karena masih kentalnya kepercayaan dalam adat mungkin adalah alasan mengapa sampai hari ini mitos tersebut masih bertahan.

Kokok ayam di pagi hari pun, sebenarnya bukan karena mata ayam menyaksikan sinar mentari, melainkan karena adanya keagungan Allah yang lebih luar biasa daripada sang mentari. Seperti yang kita ketahui, waktu pagi merupakan waktu yang penuh dengan keberkahan. Di waktu inilah malaikat-malaikat-Nya turun untuk membagikan rizki dari Allah kepada semua makhluk, setiap hari. Rizki Allah bukan hanya kekayaan secara materiel, tapi bisa dalam bentuk kesehatan, kebahagiaan, dan kenyamanan dalam beraktivitas.

Mengenai ayam, ilmuwan di Washington University yang dipandu oleh Joseph Corbo menyatakan bahwa ada sel-sel yang disebut kerucut di retina mata ayam yang mampu melihat cahaya violet dan ultraviolet, kerucut ayam ini menyebar secara menyeluruh pada retina mata ayam. Malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari nur atau cahaya. Namun, tidak ada penjelasan jenis cahaya seperti apa yang digunakan pada penciptaan malaikat.

Jauh dari itu, Nabi Muhammad telah bersabda `Bila engkau mendengar suara ayam jantan, mintalah karunia Allah karena dia memandang malaikat. Sebaliknya apabila engkau mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari syaitan karena dia memandang syaitan`.

Peneliti menyampaikan analisisnya yang menyatakan bahwa ayam dengan jelas setingkat lebih dari kita dalam hal penglihatan warna. Organisasi reseptor warna di retina ayam sangat melebihi yang terlihat di kebanyakan retina lainnya dan tentu saja dibanding sebagian besar retina mamalia. Penglihatan malamnya sendiri bergantung pada fotoreseptor light-sensitive pada retina yang disebut rod. Sementara penglihatan siang harinya bergantung pada reseptor yang disebut cone.

Selama usia dinosaurus, kebanyakan mamalia menjadi hewan nocturnal dalam kurun waktu jutaan tahun. Ayam yang diyakini sebagai keturunan dinosaurus tidak pernah menghabiskan waktu yang sama dengan hewan nocturnal, akibatnya ayam memiliki lebih banyak jenis cone dibanding mamalia.

Jika retina manusia memiliki cone yang sensitive terhadap panjang gelombang merah, biru, dan hijau, maka ayam memiliki cone yang bisa mendeteksi panjang gelombang ungu, termasuk beberapa ultraviolet, dan reseptor khusus yang disebut double cone yang dapat membantu mereka mendeteksi gerakan.

Dalam islam, ketika ayam berkokok di malam hari adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa, karena di waktu itu malaikat datang untuk mengaminkan doa. Suara kokok ayam pun tidak asal keluar begitu saja hanya untuk isyarat sebagai tanda hadirnya malaikat, namun kokok ayam adalah cara ayam memuji keagungan Allah. Subhanallah. Jika kamu ingin lebih tahu, segala yang ada di bumi ini selalu memuji keagungan Allah, bahkan detak jantung manusia pun mengandung pujian setiap kali ia berdetak.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, mulai saat ini kita tidak perlu untuk berprasangka yang bukan-bukan lagi ketika mendengar ayam berkokok di malam hari. Hal tersebut hendaknya justru menjadikan kita sebagai pribadi yang senantiasa mengingat dan menyadari betapa hebatnya kuasa Allah atas kepemilikan alam semesta yang diatur-Nya sedemikian indah, dari yang tak terjamah manusia hingga yang selalu ada di kehidupan harian manusia. Insha Allah.

Rabu, 18 Juli 2018

God Answered When I was In Pain

Pernahkah kau punya sehari saja yang mampu memberi kesan pada perjalanan hidupmu? Yang mampu kau kenang untuk selama-lamanya? Yang mampu meyakinkan bahwa segalanya bisa berubah dengan cepat, hanya dalam waktu sehari?

Sungguh, di suatu pagi yang telah lama berlalu, aku meninggalkan tubuhku sesaat, aku hilang. Benar-benar aku tak tahu apa-apa yang telah terjadi. Namun Tuhan tak ingin memanggilku pulang terlalu dini. Dia mengembalikanku.

Sayup kudengar bunyi langkah yang bergesekan dengan ubin, orang yang berbicara, dan bunyi berisik lainnya. Mataku terasa berat ketika perlahan kubuka, berbarengan dengan sakitnya kepalaku. Sesaat setelah nyawaku seratus persen kembali pada tubuhku, aku mengerti apa yang terjadi. Semua itu meninggalkan bekas, meninggalkan luka, dan meninggalkan sakit yang hingga detik ini aku masih ingat rasanya. Sinar mataku meredup, karena dentuman keras di pagi itu, masih banyak lagi yang berubah jika harus kuceritakan. Ah, tapi siapalah diriku, aku tidak boleh terlalu cengeng hanya untuk hal seperti ini. Di sana, banyak manusia-manusia yang lebih merasakan sakit bahkan rela bertaruh nyawa hanya demi urusan perut. (Percayalah, ini pelajaran hidup yang tak akan kusadari jika Tuhan tidak membuat skenario-Nya di kehidupanku).

Aku sempat tak ingin melihat diriku di cermin, aku sempat ingin berhenti untuk segalanya, aku sempat menangis tak terima pada Tuhan atas kejadian yang begitu cepat, yang aku tak mengerti. Mengapa harus aku? (Aku dulu hanya manusia penuh rasa protes. Ya ampun, bahkan takdir dari Tuhan pun sempat kuingkari).

Lambat laun, semua pulih perlahan namun tetap meninggalkan luka yang berbekas dan rasa sakit yang tak bisa kulupakan. Perlu waktu yang cukup lama untukku menerima kenyataan itu, perlu kekuatan yang berusaha kunyalakan ketika tahu bahwa sinar mataku harus meredup. Semua kulawan secara perlahan, meski aku pun pada prosesnya mustahil untuk tak menangis. Aku pernah senelangsa itu dulunya.

Tapi hari terus berganti, dan hidup tetap berlanjut tak peduli apa yang harus dilalui lagi. Waktu bergerak maju seiring bumi yang terus berputar.

Sekarang aku berdiri di atas masa laluku sendiri, aku mencari jawaban atas apa yang terjadi pada diriku. Masih, peristiwa itu selalu menghantui dan menggangguku jika harus kuakui. Kadang aku ingin memilih untuk menyerah, namun aku selalu mencari cara untuk berdamai pada hal tersebut.
Aku masih tak percaya jika aku menuliskan cerita ini untuk terbaca. Aku masih tak percaya bahwa Tuhan memberi jawaban atas pertanyaanku, `You Can Live, Even with Trauma`.

Aku menulis bukan karena hebat atau bijaksana. Tidak sama sekali. Tapi karena trauma dalam diriku. Ada ketakutan, kecemasan, juga kesedihan yang tak bisa kuhilangkan hingga saat ini. Aku tak terlalu kuat untuk terus dihantui rasa itu, hingga akhirnya kuizinkan tulisanku bercerita.

Waktu pagi adalah waktu yang seakan membuatku terus mengingat dan menghitung detik-detik perubahan yang tak bisa kutolak, yang pernah menempatkanku di keadaan yang sangat dekat pada kematian. Namun ternyata pagi itu telah berlalu dan mengizinkanku untuk hidup di pagi lainnya. Aku mencoba untuk menghidup di atas traumaku sendiri.

Tak apa untuk segala rasa yang tak bisa kuusir pergi. Seperti jawaban Tuhan, `You Can Live, Even With Trauma` hidupku semakin punya arti. Sehari dalam hidupku itu merubah segalanya. Pada akhirnya aku dapat menerima dan berdamai, lalu bilang 'tidak apa-apa' pada diriku sendiri.


Sabtu, 14 Juli 2018

Forgive them without begging 'Sorry'

Apa yang ingin kau tuntut dari sebuah sakit hati? Ada banyak manusia di muka bumi ini, dan tak semua harus dipaksa untuk mengerti hatimu seorang. Yang kau harus tahu, semua orang pernah terluka bahkan jika terlalu sakit sekalipun, ada saja dari mereka yang tegar menahan untuk membawanya sendiri hingga rasa sakit itu tak terasa lagi. Hilang. Di luar sana ada yang lebih tersakiti daripada dirimu. Jadi, jangan cengeng untuk meminta kata maaf dari mereka yang melukai.

Sometimes, you have to apologize no matter who was wrong. They who had hurting you, must have pain inside of them. You don`t need to give them bad pay. Hei, who are you? Even you are the true person, if you give them bad pay, so what`s the difference? Wish them happy. Itulah dirimu yang tercipta sebagai manusia yang memiliki hati.
It is hard to start, but if you want to know, I always do it. I rarely say sorry straight away, but I try to accept everything hurts me, if I can`t accept it in one minute, I`ll try it in one day. If it does not work, I`ll try it in everyday I live.

See, no matter who was wrong, you have to be kind to say or do anything hard for you to be better, and for them to be happy. I can say about it, because I face it very much. I never want to beg somebody to say sorry, I just gotta act like I don`t care. If it feels fine, it is done.

As simple as that to mend your heart. It just takes time and takes your feelings. Finally, you can let it go. I was scared and hurting, but now I know how to be pretty heart-controller, how to build beautiful mind to heal my heart. I love the way I am, even they speak anything bad behind my back, I can accept it for introspection. Then forgive them for the better me. For whoever you are, thank you for bringing me to be strong by your attitude to me. I hope you will find your happiness.

Adakalanya cara terbaik adalah membiarkan hatimu tersiksa sendiri daripada kau terlalu menuntut ucapan maaf dari orang. Ingatlah, tidak semua orang bisa berkata `maaf`, tidak semua orang seperti dirimu. Jika kau masih terlalu berkutat pada hal ini, lihat lagi di luar sana ada banyak hati yang dibiarkan sembuh sendiri tanpa peduli lagi siapa yang telah membuat luka.



She is Not 'Fulan'

Ia tak mengerti banyak mengenai tuhannya, agamanya, bahkan dirinya sendiri. Hanya saja, ia tahu kewajiban yang telah ditetapkan untuknya. Untuk seluruh manusia, sebenarnya. Itu saja yang ia pegang selama bertahun-tahun hidup. Namun entahlah, seperti yang kubilang sebelum-sebelumnya juga, keberkahan di muka bumi ini seakan perlahan lenyap. Bukan ia yang terlalu fanatik pada akidah yang diyakininya, ia sungguh hanya berpegang pada kewajibannya.

Kau tahu, islam membuat satu benda menjadi begitu ajaib. Ia juga meyakininya. Baru-baru saja jua. Dulu ia juga mengenakannya sebagai penutup kepala karena tidak suka rambutnya tertiup-tiup angin. Itu sudah dulu sekali ketika ia hanya tahu bermain, menangis, dan belum lancar membaca. Jelas saja ia tak tahu fungsi lainnya. Seiring waktu, ia mengerti helaian kain itu bersifat wajib untuk menutup. Benar-benar untuk menutup, untuk tak memperbanyak dosa, bukan untuk mempercantik.

Ia sang Penyembah. Wajibnya hanya lima waktu dalam sehari. Bukan karena apa-apa, ia melakukannnya karena ia sadar itu kewajibannya. Selambat apapun, ia berusaha untuk tak tertinggal. Seburuk apapun, ia berusaha untuk memperbaiki meski sedikit demi sedikit. Ia tak tahu bagaimana Tuhan menerima amalnya, mungkinkah dengan tersenyum atau ada kemungkinan terburuk lainnya. Ia pun tak pernah tahu. Ia hanya tak ingin menentang-Nya.

Tahukah kau siapa dia?

Bukan. Bukan si Fulan yang sholehah, bukan si Fulan-Fulan lainnya lagi yang ahli ibadah dan mengerti segalanya. Sebelum kau akan tahu, maafkan dulu dirinya. Jika kau menaruh ekspektasi yang terlalu besar untuk membayangkan siapa dia, nanti yang ada kau hanya kecewa. Sungguh ia bukan yang selalu lurus akhlaknya, melainkan yang hatinya masih punya kegelapan di sana. Maka maafkanlah.

Biar kuberi tahu.

Ia si Pendosa. Sudah kubilang sedari awal, keberkahan di muka bumi ini seakan lenyap perlahan. Si Pendosa itu, hatinya selalu lapar, tak pernah puas dengan apa yang digariskan. Karena rasa laparnya, hatinya juga tega memakan nuraninya sendiri. Ia berusaha untuk mengembalikan semuanya, namun itu sudah terlalu lama ia mencoba. Mungkin iya, nuraninya telah hilang, namun ia masih sadar bahwa ada Tuhan di sini.

Biar kujelaskan,

Rupanya dunia sudah sebegitu gilanya, bahkan si Pendosa ini dianggap makhluk yang mulia dengan segala sanjung dan puji. Oh tidak, ia tak pernah percaya itu. Ia tak percaya jua pada dirinya sendiri, sebaik itukah dirinya? Dengarlah dulu doanya, maka kau akan mengerti.

Telah lama sekali, Tuhan. Aku merasa sangat perlu dirimu, tapi aku lelah untuk memperbaiki diri yang sudah sangat buruk ini, bahkan terlempar dalam gelap yang lebih gelap daripada hening malam di atas langit sana. Kau pasti tahu, hati ini punya bisik setiap saat untuk melafalkan ayat-ayat nan suci-Mu. Namun entah, pikiran lain seakan menolak pada nurani. Itu egoku yang tak mengindahkan diri-Mu.

Seakan hidupku seribu tahun lagi, seakan aku tak kenal pada mati, hingga aku lupa bahwa semua hanya semu. Aku hilang meski ragaku tetap ada. Usia membawaku sejauh ini, tapi hampa di hati belum kutemukan udaranya. Tuhan tolong, kembalikan aku pada nuraniku.

Izinkan diri ini untuk memohon pada-Mu, memanjatkan cinta yang masih tersisa, berharap Kau sirami berkah pada hati yang hampa, pada air mata yang tak pernah menangis karena dosa, pada pikiran yang penuh angan duniawi. Pada semua tentangku yang belum menemukan diri-Mu. Ini sudah terlalu lama.

Tolong mengertilah, bukan ia yang berusaha membangun sosoknya yang ingin dinilai lebih dari yang lain. Ia bukan pendusta. Namun, sekali lagi harus kukatakan bahwa keberkahan di muka bumi ini perlahan lenyap. Banyak manusia yang lebih lapar darinya, hingga memakan hatinya sendiri.

Jika kau ingin lebih tahu lagi, aku menuliskan tentang si Pendosa ini karena ia mewakili diriku. Ya, doakan aku untuk terus bertahan memegang kewajiban-Nya. Bukan karena aku adalah si Fulan yang sholehah dan mengerti segalanya, melainkan karena aku hanya si Pendosa yang cemas dan selalu bertanya apakah aku manusia terburuk di muka bumi ini. Doakan aku agar Tuhan selalu mengampuni dosaku.

Senin, 18 Juni 2018

Waktu yang Begitu-begitu saja

Hari-hari itu, kami menunggu dengan jiwa yang payah, dalam raga yang lelah. Kami hampa dalam rajutan waktu yang hanya begitu-begitu saja. Pagi menjelang, merangkak siang, menjemput malam, adakah jua Kau temui kami di antara hamba-hamba-Mu yang bersimpuh bermunajat penuh merendah sebagai seseorang yang begitu menghamba? Adakah kami di antara mereka, wahai Tuhan?

Seakan hidup tak pernah temukan mati. Yang rendah kami hinakan, yang tinggi kami muliakan. Kami lupa arti persaudaraan, kami lupa arti persamaan. Kami yang lupa diri. Tumpukan material kami jadikan lambang keabadian, kami buat tangga untuk ukuran si miskin dan si kaya. Sempurnanya fisik kami jadikan kebanggaan, lengkaplah rasa sombong kami. Merasa hidup tak pernah temukan mati, ada hari esok, lusa, dan seribu tahun lagi. Kami begitu terus pada hari-hari itu. Tak menyadari penduduk langit beristighfar melihat kelakuan kami dari atas sana. Tak menyadari jiwa-jiwa terdiam di dalam kubur tak ingin mengulang lagi cara-cara yang sama seperti kami jika diberi kesempatan hidup ke-dua.

***

Baru kemarin, Kau beri (lagi) untuk kami satu bulan pembersih dosa, penyiram nurani di tengah kegersangannya. Kami gembira, seakan bulan suci itu hanya milik kami sendiri.

Di awal, kami beribadah antusias, memakai pakaian panjang hingga kadang kainnya menyentuh lantai-lantai, wangi bersih berkilau. Kami bagikan apa yang lebih dari kami demi hidupnya suasana bulan suci. Kami memperbaiki diri, kami memohon ampun atas kelalaian kami  di hari-hari itu.

Di pertengahan, kami mulai jemu. Rasa semangat itu memudar, namun kami masih bertahan dengan menjalankan kewajiban. Kewajibannya saja.

Menuju penghabisan bulan tersuci, kami berlomba lagi berebut malam paling baik dari pada seribu bulan. Kami menikmati waktu-waktu terakhir, dan semua yang di awal kami ulangi lagi demi hidupnya suasana bulan suci. Kami memperbaiki diri, dan kami memohon untuk dipertemukan lagi di waktu selanjutnya.

Satu Syawal tiba. Ya Tuhan, begitu banyak kebaikan pada satu bulan yang telah kami lewati. Kini tiba kami bagai dilahirkan kembali, sesuci bayi yang tak berdosa. Fitrah. Kami saling memaafkan, berbagi lagi dalam keikhlasan, bersama dalam kedamaian. Memakai baju panjang hingga kadang kainnya menyentuh lantai-lantai. Sungguh indah seperti kehidupan sejahtera di langit.

***

Jangan diulang (lagi) pada hari-hari yang akan datang. Biarkan kami di waktu yang seperti ini. Jangan Kau beri dan ulangi lagi hari-hari ketika kami payah, congkak, dan tertidur ketika orang lain dalam munajatnya. Jangan Kau beri menang pada ego kami yang berani pada mau-Mu. Jika itu terjadi, maka kami akan lelah dan hampa (lagi) dalam rajutan waktu yang akan datang secara begitu-begitu saja, Tuhan.

Jumat, 25 Mei 2018

You Can Live, Even with Trauma

           Waktu itu, langit memang menggelap namun masih ada celah untuk sang mentari bersinar. Gelombang laut kala itu bergulung menghempas seperti biasa. Burung-burung camar sesekali menukik tajam ke laut lalu terbang lagi dengan membawa ikan kecil yang bergerak lincah berusaha melepaskan diri.

Semua disaksikan secara utuh dari bola mata anak kecil berumur sepuluh tahunan. Ia berdiri tegak menghadap laut, meratap perahu renta yang baru saja pergi menjauh mengarungi samudera. Di sana, perahu seakan terus mengecil dipermainkan si biru yang bergulung-gulung. Biasanya, bila sore hampir tenggelam, perahu itu akan datang membawa berbagai macam ikan yang akan dijual untuk esok hari di pasar, perahu itu akan pulang bersama sang pengendali dengan pakaian yang warnanya memudar di bagian bahu dan punggungnya. Ada banyak sekali lubang-lubang kecil yang seakan menjadi benih-benih robekan pada bajunya.

Anak itu, selalu melepas dan menyambut sang ayah yang datang dan pergi dihantar angin lautan. Setiap itu pula, harap-harap cemasnya tak pernah hilang.
                                ***
Harap-harap cemas. Seperti kemungkinan terburuk yang kau bayangkan, ayahnya tak lagi kembali. Anak kecil itu, dalam hatinya yang paling dasar, juga telah menduga, dan waktunya memang benar-benar telah tiba. Ia sendiri menghadap ke arah lautan luas, melempar batuan kecil karang untuk memukul lautan, membentak laut untuk mengembalikan ayahnya lagi. Berharap lautan akan takut dengan ancamannya. Berharap lautan akan merasakan sakit karena lemparan batuan karang itu. Siapa yang berjanji bahwa laut akan selalu baik? Hentikan. Laut tak punya hati, sayang.

Ia membenci lautan. Jika ia merasakan anginnya, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Jika ia melihat warna biru lautan, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Jika ia mendengar hempasan gelombang, itu hanya membuatnya mengingat sang ayah. Ayahnya. Ia membenci lautan, namun ia tahu ayahnya telah menyatu bersama birunya laut, gelombang laut, suara laut. Segalanya. Ya Tuhan, bagaimana bisa anak itu harus terpaksa membenci pesona laut karena suatu kehilangan? Kehilangan itu telah mengubah cintanya. Itu bagian tersusah. Karena pada akhirnya, hal itu hanya membuatnya merindu.

Biru. Perlahan ia benci dengan warna itu. Biru telah mengambil ayahnya, biru bukan lagi warna kedamaian dan percaya. Buktinya, anak itu terbawa dalam kekalutan ketika menatap laut, bahkan ia tak lagi yakin bahwa laut akan mengembalikan ayahnya.

Tenggelam. Menurutnya, semua telah tenggelam. Matahari, ayahnya, sinar matanya, hidupnya. Semua tenggelam dalam duka yang menghitam. Seakan ia tak ingin melihat lautan lagi, tempat suka citanya dulu, ia ingin pergi. Namun entah, seakan pula bayangan ayahnya selalu tersenyum di atas lautan. Membuat kakinya urung melangkah pergi. Ia tak sanggup. Ayahnya ada di sana, bersama lautan.

Ia teringat ayahnya, melihat ke laut. Rindunya terbungkus takut, kini laut mengubahnya layaknya pecundang. Ya Tuhan, ini bagian terberat. Sungguh ia tak berani lagi mendekati gelombangnya, suara derai alam itu, memutar ruang memorinya lagi ke hari terakhir ia berdiri menghadap laut melepas ayahnya pergi. Kenangan itu membuatnya tak ingin lagi menyentuh laut, tak ingin lagi melihat burung camar, gelombang, dan biru. Tak ingin lagi.

                                   ***
Ah, tapi hari tetap berganti, mana mau ia peduli pada anak kecil yang masih berduka itu, nyatanya ia terus bergerak maju. Anak itu, ia sebatang kara sekarang. Bagaimanapun juga, isi ember beras akan habis jika tak diisi. Lauk pauk tak mungkin akan datang begitu saja ke rumahnya. Tak ada yang bisa diharapkan, kecuali anak itu sendiri yang mengupayakan.

Lama ia berpikir. Perutnya lapar, tapi apa yang dia bisa? Perlu waktu lama baginya untuk menjadi seorang dokter, astronout, dan ilmuwan lainnya. Bahkan ia tak lagi punya uang untuk modalnya menyambung hidup. Itu perlu waktu lama, padahal perutnya hanya perlu diisi sepiring nasi saja.

              Jaring-jaring bergoyang, perahu renta teronggok di bibir pantai, sampannya seakan menjanjikan keberuntungan. Burung camar berterbangan memberi isyarat bahwa banyak ikan di air sana. Gelombangnya tenang, birunya menyejukkan. Semesta mendukung.

Ah, peduli amat jika harus tenggelam, toh perutnya telah lapar minta segera diisi, dan bukankah ia merindukan ayahnya? Seandainya ia ditelan laut yang tak punya hati, toh ia akan bertemu dengan ayahnya dan tak kelaparan lagi. Ia lupa rasa takutnya, terkadang munculnya perasaan lain bisa melenyapkan ketakutan. Salah satunya rasa lapar. Itu yang baru ia ketahui.

Perlu waktu lama untuk menjadi dokter, astronaut, dan ilmuwan lainnya. Tapi untuk bertarung dengan laut, oh Tuhan, darah pelaut telah mengalir dalam dirinya. Anak itu, tak terlalu banyak menelan teori-teori kelautan, tapi dengan pengalaman melempar jaring untuk mencari sedikit karunia-Nya bersama ayah, dengan irama dayung yang pernah ia pelajari dari ayahnya, dengan cerita-cerita mata angin, isyarat alam, tentang gelombang apalagi warna air laut, itu sudah cukup. Itu sudah cukup mengantarnya berlayar ke tengah lautan, merasakan ayahnya memeluk dirinya lagi, merasakan ayahnya seakan ada bersamanya, menjaring ikan seharian, lalu pulang ketika mentari hendak tenggelam, lalu menjual ikan di pengepul, untuk kemudian bisa merasakan rupiah. Ayahnya ada dalam dirinya, setiap saat. Ia tak lagi kelaparan. Dan laut ternyata tetaplah bagian hidupnya. Ia telah menerimanya dengan sebuah penerimaan yang paling tulus dan ikhlas. Damailah ia dengan masa lalunya.
                                 ***
Kisah ini pasti ada di setiap perkampungan nelayan, anak kecil yang mengalami cerita ini bukan hanya satu, tapi mungkin sepuluh, atau bahkan seratus. Terserah jika menganggap cerita tadi sangat pasaran, apa salahku untuk menceritakannya kembali. Begini, kita ambil hikmahnya saja. Bukankah terlalu kejam jika anak sekecil itu sudah merasakan kedukaan yang begitu berat? Bahkan memberikan ketakutan sehingga ia membenci laut karena kehilangan. Tapi justru ia menemukan ayahnya kembali, di dalam dirinya sendiri. Alasanku mengemas kembali kisah ini hanya untuk menyampaikan satu kalimat penerimaan, atas prasangka buruk yang terkadang terlanjur kita utarakan pada Tuhan: `You can live, even with trauma`